Ringkasan Untuk Menjelaskan Beberapa Kerusakan Pada Jalan Yang Ditempuh Oleh Al-Hajury

Ringkasan Untuk Menjelaskan Beberapa Kerusakan Pada Jalan Yang Ditempuh Oleh Al-Hajury

 

Download versi Arab (PDF)         atau          Download Terjemahnya (PDF)

بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله، وأشهد أن لا إله إلا الله، وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله، أما بعد:

Sungguh Allah تعالى telah mendatangkan Guru kami Al-Muhadits Al-‘Allamah Abu Abdirrahman Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i -رحمه الله- pada kurun ini. Maka beliau menunaikan dakwah kepada Allah تعالى dan pengajaran di atas ilmu dan petunjuk. Sehingga para penuntut ilmu dari berbagai belahan dan penjuru bumi datang kepada beliau, dari dalam Yaman dan luar Yaman. Bahkan belum pernah terjadi rihlah kepada seorang ulama di Yaman setelah Imam Abdurrazaq bin Hammam Ash-Shan’any رحمه الله sebagaimana terjadi kepada Guru kami Al-Wadi’i.

Maka Guru kami menetap di Yaman dalam kondisi menggali ilmu, mengajar, dan berdakwah kepada Allah تعالى selama lebih dari seperempat abad. Sampai beliau dijemput oleh ajal yang telah ditetapkan. Semoga Allah merahmati beliau dengan rahmat yang luas dan menempatkan beliau di surga-Nya yang paling luas.

Beliau telah berwasiat sebelum wafatnya  dengan sebuah wasiat yang agung yang telah tersebar ke berbagai penjuru, dan telah diketahui oleh orang yang telah mendapatkannya. Diantara yang beliau sebutkan dalam wasiatnya adalah:

“Dan aku wasiatkan kepada saudaraku fillah sekalian ahlus sunnah untuk mengejar ilmu yang bermanfaat, jujur terhadap Allah تعالى, dan ikhlas kepada-Nya. Jika ada suatu permasalahan yang menimpa mereka hendaknya para ulama berkumpul untuk menyelesaikannya. Seperti Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, Asy-Syaikh Abul Hasan Al-Ma’riby, Asy-Syaikh Muhammad Al-Imam, Asy-Syaikh Abdul ‘Aziz Al-Bura’i, Asy-Syaikh Abdullah bin ‘Utsman, Asy-Syaikh Yahya Al-Hajury, dan Asy-Syaikh Abdurrahman Al-‘Adny. Dan aku menasehatkan kepada mereka untuk bermusyawarah dalam  berbagai permasalahan mereka dengan Asy-Syaikh Al-Fadhil Sang Pemberi Wejangan Yang Bijak Muhammad Ash-Shumaly, sungguh aku pernah meminta pertimbangan kepadanya dan beliau memberikan pendapat dengan penuh petunjuk.”

Dan Abul Hasan Al-Ma’riby Al-Mishry telah memisahkan diri dari saudara-saudaranya (para Ulama) beberapa waktu setelah wafatnya Guru kami, dan telah terjadi hal-hal yang telah diketahui oleh kalian.(1)

(1)                Asy-Syaikh Al-Imam ketika kami tanya kondisi terakhir Abul Hasan berkata: “Dia sekarang berjalan mengekor dan mengejar dunia, disibukkan oleh dunia dan juga politik.” Asy-Syaikh Rabi’ حفظه الله telah menjelaskan hakekat orang ini dalam berbagai tulisannya.

Para Ulama yang telah disebutkan berusaha keras menunaikan wasiat tersebut. Setiap kali terjadi fitnah antara ahlus sunnah di Yaman maka mereka mencurahkan usaha kerasnya dalam menyelesaikan fitnah tersebut.

Semenjak sekitar tujuh tahun  silam muncullah khilaf antara Asy-Syaikh Yahya Al-Hajury dengan Asy-Syaikh Abdurrahman Al-‘Adny. Para Ulama pun (Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, Asy-Syaikh Al-Bura’i, Asy-Syaikh Ash-Shumaly, Asy-Syaikh Adz-Dzamary, dan Asy-Syaikh Al-Imam) segera berupaya untuk mewujudkan islah. Tejadilah pertemuan di Dar Al-Hadits Dammaj -semoga Allah menjaganya-, kami pertemukan kedua Syaikh (Al-Hajury dan Al-‘Adny), dan kami telah mendengar apa yang dimiliki oleh kedua pihak. Bentuk ishlah tersebut adalah bahwa Asy-Syaikh Abdurrahman Al-‘Adny menghentikan pendaftaran pembeli tanah kapling di Fiyusy dengan pertimbangan maslahat yang dipandang oleh para ulama tersebut. Para Ulama juga menuntut kepada Asy-Syaikh Yahya untuk menarik ucapan, celaan, dan penghizbiannya terhadap Asy-Syaikh Abdurrahman. Maka hasilnya Asy-Syaikh Abdurrahman bersedia menghentikan pendaftaran, akan tetapi Asy-Syaikh Yahya tidak menarik ucapannya terhadap Asy-Syaikh Abdurrahman. Sebagaimana para ulama meminta kepada Asy-Syaikh Abdurrahman untuk meminta maaf kepada Asy-Syaikh Yahya, namun belum terwujud permintaan maaf pada saat itu.

Selang beberapa waktu Asy-Syaikh Abdurrahman keluar dari Dar Al-Hadits Dammaj dan pindah ke ‘Adn. Maka Asy-Syaikh Yahya berkata: “Abdurrahman tidak boleh balik lagi ke Dammaj”. Maka kami (para ulama) menghubungi Asy-Syaikh Yahya dan kami katakan: “Sudah cukup ucapanmu terhadap Asy-Syaikh Abdurrahman Al-‘Adny sampai di sini”. Akan tetapi Asy-Syaikh Yahya terus berbicara tentang Asy-Syaikh Abdurrahman menghukumi bahwa beliau adalah hizby dan tukang fitnah, dan sebagainya.

Selang beberapa waktu dari penelusuran para ulama terkait perselisihan ini dan terkait ngototnya Asy-Syaikh Yahya dalam menghizbikan Asy-Syaikh Abdurrahman, maka para ulama memandang untuk memanggil Asy-Syaikh Abdurrahman dan duduk bersamanya melihat hakekat hukum hizby yang diberikan untuk beliau. Terjadilah pertemuan di Dar Al-Hadits Ma’bar dengan persetujuan Asy-Syaikh Yahya. Terjadilah pertemuan dengan Asy-Syaikh Abdurrahman dan diskusi dengannya. Setelah itu para Ulama memandang untuk menerbitkan penjelasan untuk menghentikan khilaf. Maka mereka menulis penjelasan dan mereka bacakan kepada Asy-Syaikh Yahya melalui telepon dan Asy-Syaikh Yahya menyetujui untuk diterbitkan penjelasan yang dibacakan tadi.

Setelah penjelasan tersebut diterbitkan Asy-Syaikh Yahya menelpon dan mengatakan bahwa dia tidak setuju akan penjelasan tersebut, sampai Asy-Syaikh Abdurrahman Al-‘Adny bersedia meminta maaf kepadanya di Dammaj. Para Ulama berkata: “Penjelasan sudah diterbitkan, dan Asy-Syaikh Abdurrahman akan datang pada waktu mendatang insyaallah.” Asy-Syaikh Yahya pun enggan dan memilih untuk menyelisihi kesepakatan, dan mengeluarkan bantahan tehadap penjelasan, yang justru menjadikan khilaf lebih parah. Para Ulama pun bersabar menghadapi sikap dan tindakan Asy-Syaikh Yahya ini.

Selang beberapa waktu kami pergi menunaikan haji, yaitu Asy-Syaikh Yahya, Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, Asy-Syaikh Adz-Dzamary, Asy-Syaikh Al-Bura’i, Asy-Syaikh Ash-Shumaly, dan Asy-Syaikh Al-Imam, dan Asy-Syaikh Abdurrahman belum berkesempatan menunaikan haji pada tahun tersebut. Maka kami sepekat untuk bertemu semua di hadapan Bapak kami Asy-Syaikh Rabi’ hafizhahullah, maka kamipun bertemu. Asy-Syaikh Rabi’ berkata kepada Asy-Syaikh Yahya: “Wahai Syaikh Yahya, Asy-Syaikh Abdurrahman tidak memiliki ciri dan bentuk hizbiyah, kami tahu siapa beliau, beliau telah direkomendasi oleh Gurunya yaitu Asy-Syaikh Al-Wadi’i, dan dipilih masuk dalam para ulama yang menjadi rujukan ketika terjadi fitnah.” Dan ucapan yang semisal ini.

Kemudian Asy-Syaikh Rabi’ mengarahkan pembicaraan kepada para Ulama yang hadir dan berkata: “Apakah kalian memandang bahwa Abdurrahman itu hizby?” Para Ulama menjawab: “Kami tidak melihat beliau memiliki hizbiyah.” Maka Asy-Syaikh Rabi’ dengan disepakati oleh para Ulama mengambil tindakan dan menuntut dari Asy-Syaikh Yahya untuk rujuk dari ucapannya dalam menghukumi Asy-Syaikh Abdurrahman dengan hizbiyah, dan beliau meminta kepada kami jika telah kembali ke Yaman untuk memanggil Abdurrahman dan meminta kepada beliau untuk mengeluarkan pernyataan: bahwa beliau berlepas diri kepada Allah تعالى dari orang-orang yang mencela Dammaj, dan juga bahwa beliau tidak ridha akan celaan apapun terhadap Asy-Syaikh Yahya. Dengan demikian khilaf akan selesai, dan dakwah akan berjalan dengan semestinya dalam ketenangan, dalam ta’awun, dan menutup pintu-pintu fitnah.

Asy-Syaikh Yahya menerima keputusan Asy-Syaikh Rabi’ ini pada waktu itu (di hadapan beliau). Maka para Ulama kembali ke Yaman, dan mereka sangat antusias untuk mewujudkan kesepakatan yang terjadi di hadapan Asy-Syaikh Rabi’. Mereka memanggil Asy-Syaikh Abdurrahman Al-‘Adny, dan terjadilah pertemuan di Hudaidah di tempat Bapak dan Guru kami Muhammad bin Abdul Wahhab. Kami bertemu dengan Asy-Syaikh Abdurrahman dan kami sampaikan apa yang terjadi di hadapn Asy-Syaikh Rabi’, serta apa yang diputuskan oleh Asy-Syaikh Rabi’ dan telah kami setujui. Maka Asy-Syaikh Abdurrahman setuju dan bersedia untuk mengeluarkan pernyataan sesuai yang diminta oleh Asy-Syaikh Rabi’ dan para Ulama. Beliaupun mengeluarkan pernyataan. Sayangnya sikap Asy-Syaikh Yahya tidak lain adalah membantahnya dengan dua kaset, padanya dia membicarakan para Ulama yang telah menunaikan apa yang diminta oleh Asy-Syaikh Rabi’, dia melontarkan beberapa hal berupa celaan. Maka para Ulama bersabar (akan sikapnya) dan tidak membantah sedikitpun terhadap Asy-Syaikh Yahya.

Pada saat tersebut, telah terjadi khilaf (tambahan), yaitu antara Asy-Syaikh Yahya dengan Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, antara Asy-Syaikh Yahya dengan Asy-Syaikh ‘Ubaid Al-Jabiry. Dan sisa Ulama Yaman yang lain berupaya untuk melakukan ishlah antara Asy-Syaikh Yahya dan para Ulama (yang menjadi rival barunya) juga. Dan para Ulama tidak berhasil menyelesaikan khilaf, karena inti dari masalah tersebut adalah: Ucapan Asy-Syaikh Yahya terhadap Asy-Syaikh Abdurrahman.

Kemudian terjadilah bahwa Asy-Syaikh ‘Ubaid Al-Jabiry mengeluarkan fatwa bahwa tidak boleh menimba ilmu di Dammaj di hadapan Asy-Syaikh Yahya Al-Hajury. Maka para Ulama (yaitu Ash-Shumaly, Adz-Dzamary, Al-Bura’i, dan Al-Imam) memandang untuk mengeluarkan pernyataan menjelaskan hakekat khilaf ini, yang mana Asy-Syaikh Yahya ngotot untuk selalu mengobarkannya. Maka mereka mengeluarkan penjelasan yang menyatakan bahwa: “Khilaf ini tidak akan menolong sunnah, tidak pula membungkam bid’ah, khilaf tersebut hanya bentuk pertengkaran (untuk mengalahkan rivalnya).”

Sebagaimana penjelasan tersebut juga menyatakan bahwa khilaf yang terjadi tidak sampai untuk mentahdzir dari para penuntut ilmu di Dammaj.

Setelah keluarnya pernyataan di atas, Asy-Syaikh Yahya dan pengikutnya menyerukan untuk memisahkan diri (dari para Ulama). Mulailah terjadi pemisahan diri, dan yang terjadi di Yaman Selatan (dari para pengikut Asy-Syaikh Yahya) sangatlah parah. Para Ulama berwasiat untuk bersabar dan menjaga dakwah, menjaga persatuan, dan tidak menyetujui selamanya adanya pemisahan diri. Pemisahan diri ini dibarengi dengan adanya tahdzir Asy-Syaikh Yahya untuk tidak menghadiri kajian para Ulama yang tersebut di atas (4 ulama tadi), dan tidak boleh mengundang mereka. Pemisahan ini terjadi pada tahun 1429 H.(2)

(2)  Dengan demikian Asy-Syaikh Yahya berjalan bersendirian dengan keyakinannya dan Para Ulama berada di sisi lain, pada akhirnya semua telah dijadikan rivalnya. Padahal diantara mereka adalah orang-orang yang telah berkorban untuk mengupayakan adanya ishlah, yang tidak jarang demi mashlahat sebagian mereka membela Asy-Syaikh Yahya. Ini hanyalah nukilan tambahan yang kami dengar dengan telinga kami. Pent)

Pada tahun 1430 H para Ulama (Al-Bura’i, Adz-Dzamary, Al-Imam) pergi menunaikan haji dan bertemu dengan Asy-Syaikh Rabi’, mereka meminta kepada beliau untuk meminta Admin Website Al-Wahyain untuk menarik ucapan terhadap Asy-Syaikh Yahya dan berhenti sampai di situ. Beliaupun menyampaikan pada mereka, maka merekapun bersedia menutupnya beberapa waktu disertai rasa ‘sakit’. Karena mereka berkata: “Kalian menyuruh kami satu pihak untuk menutup, dan tidak menyuruh pihak yang lain.” Tujuan para Ulama saat itu adalah agar khilaf agak mereda, akan tetapi tanpa hasil!

Kemudian para admin Al-Wahyain membuka kembali situs mereka setelah beberapa bulan, dengan alasan pihak yang lain -Asy-Syaikh Yahya dan pengikutnya- tidak mau berhenti.

Setelah ini keluarlah ucapan dari Asy-Syaikh Rabi’ terhadap Al-Hajury, beliau berkata terkait Al-Hajury dan orang-orang yang fanatik padanya: “Mereka berjalan di atas tata cara hadady.” Pada kesempatan yang lain beliau berkata: “Mereka itu kaum hadady”. Maka Asy-Syaikh Yahya membantah Asy-Syaikh Rabi’ dengan bantahan yang makin mengobarkan fitnah, karena ada bentuk melampaui batas. Dan para Ulama Yaman berangan-angan kalau saja Asy-Syaikh Yahya mau memperbaiki perilakunya. Akan tetapi hal ini sedikitpun tidak ada.

Kemudian para Ulama mengeluarkan pernyataan yang diantara isinya meminta kepada situs Al-Wahyain yang membantah Asy-Syaikh Yahya untuk berhenti dari membela para ulama ketika Asy-Syaikh Yahya menghujat mereka, dengan harapan tidak menjadi jembatan untuk berbicara dan mencela Dar Al-Hadits Dammaj (yang dibangun oleh Asy-Syaikh Muqbil).

Asy-Syaikh Muhammad bin Hadi Al-Madkhaly pun akhirnya ikut berbicara terhadap Asy-Syaikh Yahya, disebabkan ucapan Asy-Syaikh Yahya terhadap Asy-Syaikh Rabi’ dan yang lain. Asy-Syaikh Yahyapun membalasnya yang akhirnya menyebabkan fitnah makin parah.

Para Ulama terus memegang sikap yang mereka yakini berupa bersabar dan upaya menjaga dakwah dan ukhuwah. Namun para fanatikus Asy-Syaikh Yahya berupaya untuk menyebarkan citra buruk dan mencela para ulama (4 ulama tadi) di hadapan para ulama sunnah di Saudi dan lainnya. Padahal para Ulama berangan-angan kalau saja ada upaya dari Asy-Syaikh Yahya dan fanatikusnya untuk menghentikan khilaf dan mau berhubungan dengan para Ulama. Akan tetapi hal itu tidak ada, justru yang ada adalah para ulama ‘disakiti’ dan dicela.

Lebih dari itu: Bahwa Asy-Syaikh Rabi’ pada sebuah pertemuan malam Rabu tanggal 1 Jumada Al-Ula 1434 H telah berbicara terkait Asy-Syaikh Yahya dengan ucapan yang telah tersebar dan diketahui orang yang jauh dan dekat. Diantara yang beliau ucapkan terkait Asy-Syaikh Al-Hajury adalah: “Dia harus dipaksa untuk mengubah caranya bersikap. Jika dia terus ngotot dalam caranya ini maka akan menyebabkan fitnah yang tidak ada yang semisal dengannya (dalam kerusakan).” Beliau juga berkata: “Aku telah menasehatinya beberap kali, terkadang aku nasehati dia selama 2,5 jam, namun dia tidak mau mendengar, berjanji namun tidak menepati janjinya.” Beliau juga berkata: “Kami duduk bersamanya, kami kasih tahu dia, akan tetapi dia tidak mendengar.” Beliau juga berkata: “Para murid fanatiknya sangat ghuluw (fanatik dan melampui batas) yang tiada yang semisal denganya (dalam kerusakan dan ghuluw).”

Sebagai ganti dari sikap Asy-Syaikh Yahya Al-Hajury untuk menerima mengubah cara bersikapnya yang dia anut, ternyata dia lebih memilih untuk mengeluarkan kaset dengan tema: “Nasehat yang tinggi berharga untuk Asy-Syaikh Rabi’.” Di dalamnya dia membantah ucapan Asy-Syaikh Rabi’ per kalimat. Diantara yang dia ucapkan dalam bantahannya terhadap Asy-Syaikh Rabi’ adalah: Terkait ucapan Asy-Syaikh Rabi’ (Dia harus dipaksa untuk mengubah cara bersikapnya) Al-Hajury berkata: “Aku ini pengampu dakwah … Bagaimana kau akan memaksaku semetara di belakangku ada ribuan orang?! -alhamdulillah- Mereka di atas sunnah. Kalau kau mengucapkan satu kalimat saja maka mereka akan membantah dengan rentetan kalimat. Demi Allah, aku ini telah bertengger pada dada-dada mereka sekarang untuk membantah. Bagaimana kau akan memaksaku?!”

Diantara yang diucapkan Asy-Syaikh Al-Hajury dalam bantahannya terhadap ucapan Asy-Syaikh Rabi’ adalah: “Itu ucapan yang keluar karena marah dan emosi, sampai sebagian orang yang hadir berkata padaku bahwa dia (Asy-Syaikh Rabi’) berbicara dalam kondisi gemetar.”

Perhatikan wahai orang yang adil seimbang dalam menilai cara bersikapnya Asy-Syaikh Al-Hajury ini terhadap para ulama yang berupaya menasehatinya, yang peduli kepadanya!!!

Khilaf yang dikomandoi oleh Al-Hajury ini telah dibarengi beberapa hal, diantaranya:

  • Dia membuka ‘kesempatan’ untuk murid-muridnya untuk menghujat para Ulama yang telah disebutkan dan juga selain mereka, dalam bentuk sya’ir ataupun tulisan, menerbitkan berbagai diktat (malzamah), berbagai artikel dan buku untuk menghujat mereka. Di dalamnya terdapat sikap melampaui batas yang menunjukkan bahwa mereka (fanatikus) menceburkan diri dalam ‘peperangan’ untuk meruntuhkan para ulama.
  • Selama waktu khilaf belum pernah Asy-Syaikh Yahya menerima nasehat dari para Ulama, dalam hal ishlah apapun.
  • Al-Hajury telah menghujat sejumlah besar penuntut ilmu yang mustafid (mengajar dan menulis serta meneliti) karena mereka tidak setuju dengan cara bersikapnya di atas.
  • Fanatikus Al-Hajury menebarkan fitnah tersebut di tengah ahlus sunnah di seluruh dunia (termasuknya Indonesia), sehingga menyebabkan madharat bagi ahlus sunnah dan perpecahan diantara mereka. Laa haula walaa quwwata Illa billah.

Inilah ringkasan yang terkait dengan apa yang terjadi. Para Ulama telah menilai bahwa cara bersikapnya Asy-Syaikh Yahya dalam khilaf ini selama lebih dari tujuh tahun merupakan sebuah manhaj (tata cara dan jalan berprinsip) yang dia anut dan jalani, bukan sekedar ketergelinciran.

Sudah diketahui bahwa ketergelinciran jika membuat dunia tergelincir itu diperingatkan darinya dengan keras, lalu bagaimana dengan orang yang telah menjadikannya sebagai tata cara berprinsip yang menyelisihi prinsipnya para Ulama dari jaman dahulu sampai sekarang, berloyalitas dan memusuhi karenanya???! Bukankah peringatan keras dari orangnya dan dari prinsipnya lebih dituntut lagi dan lebih penting??!

Sebagi penutup: Aku nasehatkan kepada saudaraku ahlus sunnah secara umum, dan kepada para penimba ilmu secara khusus: “Untuk mengarah secara sempurna untuk menggapai ilmu yang bermanfaat, beramal dengan ilmu itu, berdakwah kepada Allah تعالى, tunduk secara sempurna kepada dalil-dalil syari’at yang cemerlang, bersedia mengembalikan permasalahan kepada orang yang Allah تعالى perintahkan untuk dikembalikan permasalahan padanya, yaitu para ulama, terkhusus saat terjadinya fitnah, lalu mengambil dan memegang nasehatnya, dan menjauhi sikap fanatik dan taklid buta. Kalau tidak maka dikhawatirkan bagi yang bersikap fanatik dan terjun dalam fitnah akan tertimpa akibat yang buruk.

Dan kepada Allah تعالى aku memohon agar menyatukan ahlus sunnah, dan memberikan petunjuk untuk semuanya kepada setiap hal yang dicintai dan diridhai-Nya. Sesungguhnya Allah تعالى pemilik hal itu dan maha mampu untuk melakukan hal itu.

Ditulis oleh:

Abu Nashr Muhammad bin Abdullah Al-Imam

Dar Al-Hadits Ma’bar

26 / 5 / 1434 H

Diterjemahkan 2 hari setelahnya (28 / 5 / 1434 H – 08 / 04 / 2013 M)

dibacakan oleh beliau sendiri pada pelajaran ba’da zhuhur, berikut link download rekamannya.

2 responses to this post.

  1. Posted by sudar on 14/05/2013 at 09:27

    tidak kah terdapat pelajaran yang banyak dari pelajaran khilaf antara syaikh yahya dan syaikh abdurrrahman? bukan kah kita tidak ada yang ma’sum? ya Alloh satukanlah barisan ahlussunnah!

    Balas

    • na’am, ibrah dalam khilaf yang terjadi sangatlah banyak, diantaranya:
      1. Kita jadi mengerti bagaimana masing-masing pihak bersikap dalam khilaf ini, sehingga membuat kita mencontohnya atau tidak mencontohnya.
      2. Sikap ulama yang tidak masuk dalam salah satu dari kedua belah pihak, kita bisa mencontoh betapa gigihnya mereka berupaya menyelesaikan khilaf, dan betapa gigihnya mereka menenangkan umat, termasuknya kami.
      Kami di sini benar-benar nyata mendapati bagaimana dua ibrah ini kami rasakan. Dalam dekapan mereka kami merasa nyaman, kami diajak melihat masalah secara ilmiyah, dengan akal sehat, dengan pikiran jernih dan penuh kehati-hatian.
      Ibnu ‘Asyur berkata: “Suatu perkumpulan yang majmu’ tentunya akan berefek adanya khilaf, hanya saja siapa yang dirinya siap untuk menyelesaikan khilaf dan rujuk dari kekeliruan.” Al-Haq, dakwah dan umatkah yang mereka pikirkan atau keinginan terselubung???

      Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: