Biografi Ringkas Asy-Syaikh Muhammad Al-Imam 01

Biografi Ringkas Asy-Syaikh Muhammad Al-Imam

(Pengasuh Utama Ma’had Dar Al-Hadits Ma’bar – Yaman)

بسم الله الرحمن الرحيم

Berikut kami haturkan biografi ringkas Guru dan Bapak kami Asy-Syaikh Muhammad Al-Imam حفظه الله, karena adanya beberapa ikhwah dari Indonesia yang meminta kami menyajikan tema ini.

Nama beliau: Muhammad bin Abdullah bin Husain bin Thahir bin ‘Ali bin Ghazy Ar-Raimy

Gelar beliau: Al-Imam

Nama Kunyah: Abu Nashr (dan Nashr adalah putra beliau yang ketiga)

Dilahirkan: Sekitar pada tahun 1380 H atau 1960 M, di Desa As-Sahla, Kecamatan Kasmah, Propinsi Raimah (Daerah yang banyak dataran tinggi di Yaman).

Asal beliau: Beliau berasal dari Raimah yang terletak di Barat Laut Ibu Kota Shan’a. Raimah merupakan deretan dataran tinggi yang meliputi tiga sisi (Barat, Selatan dan Timur). Yang menuntut penduduknya memilki sifat yang gigih serta sabar, sehingga ini pun membentuk kepribadian Asy-Syaikh yang begitu gigih menghadapi berbagai rintangan dan begitu sabar membimbing dan menjalankan amanat dakwah, serta sabar menghadapi berbagai kesusahan.

Sebagian Sifat Asy-Syaikh:

Kita akan simak sebagian sifat Asy-Syaikh, karena menyebutkan semuanya akan membuat panjang pembicaraan, namun sebagian yang kita sebutkan ini semoga menjadi contoh:

1.       Telah tergambar di atas bahwa Asy-Syaikh adalah orang yang gigih dan sangat penyabar.

Bentuk kegigihan beliau: Kita ambil contoh dalam hal dakwah saja: Beliau mencurahkan hampir semua waktu untuk mengemban dakwah salafiyah ini. Dari waktu ke waktu kisaran kegiatan beliau adalah meneliti permasalahan ilmiyah, mengajar dan menulis. Sampai tulisan beliau telah mencapai sekitar 50 karya tulis. Nanti akan kami sebutkan rincian kegiatan beliau insyaallah.

Bentuk kesabaran beliau: Kita ambil contoh urusan intern ma’had saja. Bagaimana beliau begitu sabar membimbing ribuan murid beliau dari yang berumur anak-anak sampai yang lanjut usia. Menjadi pengurus puncak yang memikirkan pelajaran mereka, tempat tinggal mereka, kebutuhan pangan mereka, dan sebagainya. Meskipun beliau memiliki para pendamping yang mengurus bidang-bidang tertentu, tapi beliaulah yang menjadi pemutus dan semua urusan kembali pada beliau. Sampai suatu ketika dana keseharian ma’had untuk ribuan pelajar ini tidak ada, maka beliau yang mencari jalan keluar dalam tanggungan beliau sendiri, entah dari mana jalannya, yang kami tahu waktu itu dalam rupiah minus 250 juta rupiah. Dan Asy-Syaikh bersabar dan bertawakal serta memohon jalan keluar hanya kepada Allah تعالى, disertai usaha yang sekiranya beliau mampu menempuhnya (dan bukan dengan jalan meminta-minta). Dan akhirnya beberapa waktu kemudian Allah تعالى segera menutup kekurangan tersebut melalui hamba-hamba-Nya yang Dia pilih.

2.       Kecintaan beliau terhadap ibadah

Beliau adalah orang yang banyak melakukan shalat, puasa sunnah, dan berdzikir di setiap kesempatan. Sebagai contoh, beliau sebatas yang saya tahu hampir tidak pernah meninggalkan puasa Senin – Kamis, puasa 3 hari dalam satu bulan (Ayam Al-Bidh). Beliau selalu menunaikan shalat dhuha, selalu menunaikan shalat tahajud, baik ketika di rumah ataupun safar. Oleh karena itu selalu mengajak murid-muridnya untuk melatih diri menunaikan shalat tahajud, karena itulah amalannya orang shalih.

Maka tidak heran kalau wujud kecintaan Allah تعالى terlihat pada beliau. Kami saksikan jalan keluar dari kesulitan mudah beliau dapatkan, perlindungan dari mara bahaya beliau rasakan, dan doa yang beliau panjatkan pun kami saksikan pengabulannya dari Allah تعالى. Contoh saja, pada suatu jum’ah beliau mengajak doa minta hujan, maka malam harinya turun hujan sampai membanjiri kamar kami waktu itu tanpa ada pertanda lebih dahulu akan turun hujan.

3.       Rendah hati (Tawadhu’)

Contoh bentuk tawadhu’ beliau adalah: Ketika dibacakan kepada beliau pertanyaan dengan menyebut beliau Al-‘Allamah (orang yang sangat luas ilmunya), maka beliau segera berkata kepada penanya: “Sebaiknya tinggalkan itu kata Al-‘Allamah, saya lebih suka disebut dengan Akh Muhammad.” Demikian pula beliau tidak sungkan makan bersama kami dalam satu nampan. Saya sendiri pernah beberapa kamli makan satu nampan dengan beliau dan beliau yang mengambilkan daging untuk saya. Padahal beliau ibarat rembulan di langit sedang saya batu di dasar gunung.

4.       Kedermawanan beliau

Beliau sangat murah hati dan dermawan, hal ini pun dikenal oleh kawan dan lawan (orang yang tak cocok dengan beliau). Sampaipun orang awam yang bukan murid beliau berkata: “Al-Imam itu orangnya sangat baik dan sangat dermawan.” Betapa tidak, mendengar ada tamu apalagi dari Indonesia, maka beliau langsung menyiapkan menu potong kambing terbaik, berapapun jumlah tamu beliau. Kalau ada orang kesusahan dan datang meminta bantuan pada beliau, maka beliaupun segera membantunya. Meskipun tidak minta kalau beliau tahu sesuatu telah terjadi maka beliau segera mengutus orang menyampaikan sesuatu. Dan inipun saya alami sendiri ketika mengetahui saya sakit maka beliau mengirimkan sesuatu untu saya. Semoga Allah تعالى membalas perhatian beliau terhadap murid-muridnya dan setiap orang.

5.       Sifat Qana’ah (Merasa cukup) dan Zuhud

Beliau tidak suka dengan tampilan megah, beliau mengambil dari dunia ini apa yang membantu beliau untuk lancar urusan akhiratnya. Dari tampang, beliau tampil sederhana biasa. Kalau orang baru pertama kali melihat niscaya akan terheran bahwa beliau adalah Asy-Syaikh Muhammad Al-Imam. Orangnya kurus, pakaiannya sederhana, layaknya orang biasa. Namun ketika melihat para pengawal beliau baru menyadari bahwa orang ini luar biasa. Setiap harinya beliau didampingi tiga pengawal yang tanggap dan siap siaga. Alasan ketatnya pengawalan beliau bukan di sini tempat pemaparannya.

Suatu ketika ada orang membangun sebuah rumah besar, kalau saya bilang gedung, lalu orang tersebut datang ke Asy-Syaikh dan berkata: “Saya telah membangun sebuah rumah, silahkan Asy-Syaikh huni, rumah itu untuk anda.” Namun Asy-Syaikh menolaknya dengan lembut, sudah cukup dengan yang ada. Akhirnya rumah tersebut diberikan oleh yang bangun kepada anak beliau.

6.       Sangat suka menempuh jalan terbaik dan yang lebih hati-hati

Sebagai contoh, dalam permasalahan khilaf sesama ahlus sunnah, beliau berusaha pertama kali meredam fitnah itu agar tidak meluas. Maka beliau membendung setiap jalan yang menjadikan fitnah itu meluas, orang yang tidak bersangkutan diminta diam, orang yang bersangkutan diminta menyelesaikan fitnah secara intern. Sampaipun kalaupun diri beliau dihina karena cara itu, beliau tetap diam, kecuali yang dihina adalah ulama atau dakwah, maka beliau angkat bicara tanpa menunjuk hidung.

Saya pernah menyaksikan ketika di kamar beliau, ada telpon dari seseorang tentang khilaf, maka beliau berkata: “Tutup celah, tutup celah, jangan nyalakan fitnah!!!”

Ketika kami minta nasehat terkait fitnah dan khilaf, maka beliau menasehatkan: “Upayakan nasehat dengan baik 2x, jika dia menerima alhamdulillah, jika tidak maka engkau telah menunaikan kewajiban, dan jangan memaksakan kehendak. Selesaikan masalah dihadapan orang yang lebih tua dan berilmu. Hindari bentrokan dan benturan.”

Maka begitu besar perhatian beliau dalam menyelamatkan arus bawah yang terncam terombang ambing fitnah dan khilaf.

7.       Besarnya perhatian beliau terhadap umat

Contohnya, ketika datang orang-orang yang memiliki maslah untuk diselesaikan maka beliau pun siap menjadi penengah, ketika ada orang hendak meminta fatwa dan bertanya maka beliaupun menyediakan waktu menjawab. Beliupun menyediakan waktu khusus untuk menasehati orang-orang sakit melalui ceramah, dan menyediakan waktu khusus untuk meruqyah dan mendengarkan keluhan orang-orang sakit.

Terkait perhatian beliau terhadap para pelajar, maka beliau seperti sikap seorang bapak terhadap anaknya, selalu memberikan yang terbaik. Terlebih terhadap kami yang dari luar Yaman. Mengingat apa yang telah beliau curahkan untuk kami, kami hanya bisa terharu dan meneteskan air mata. Perhatian dalam segala bidang, pembelaan dari segala rintangan. Pernah beliau berkhutbah jum’ah khusus untuk kami yang membuat kami berllinang air mata, sebuah pembelaan untuk kami dari gangguan para pengganggu. Semoga Allah تعالى membalas segala kebaikan beliau.

Sebagai gambaran, dulu Asy-Syaikh sebelum konsen ke ilmu agama beliau pernah belajar ilmu pengobatan.

Sebenarnya ada tanya-jawab kami dengan Asy-Syaikh tentang kondisi Indonesia, namun belum selesai kami tata. Semoga bisa segera kami kirim ke Indonesia.

8.       Hubungan beliau dengan pemerintah

Mungkin ini terakhir yang akan kami sebutkan, supaya tidak terlalu panjang. Beliau selalu mentaati pemerintah selama apa yang ditetapkan pemerintah tidak melanggar aturan Allah تعالى. Sebagai cantoh, ketika kami orang asing tidak boleh memegang senjata, maka Asy-Syaikh melarang muridnya yang dari luar Yaman untuk tidak berdekatan dengan senjata, mendekat saja tidak boleh apalagi memegang. Maka dari itu kalau ada yang berkata kami dilatih perang dan teror, maka kami akan bertanya apa buktinya, kami berdekatan dengan senjata saja tidak boleh. Insyaallah akan jelas ketika kami menyebutkan kegiatan yang Asy-Syaikh dan kami lakukan setiap harinya.

Lebih dari itu Asy-Syaikh juga menyeru orang Yaman sendiri untuk tidak keluar menenteng senjata padahal tidak ada keperluan yang mendesak.

Lanjutan ….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: