Salafy Antara Gambar Dan Taat Pemerintah

Salafy  Antara Gambar Dan Taat Pemerintah

بسم الله الرحمن الرحيم

Sudah kita lewati keterangan tentang pandangan salafy terkait hukum gambar secara benar dalam tinjauan syari’at islam, yang didukung dengan bukti dan dalil dari sabda Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم dan afatwa para ulama. Dan juga telah kita lewati keyakinan salafy / ahlus sunnah terkait ketaatan kepada pemerintah muslim secara benar dalam tinjauan syari’at islam, yang didukung dengan dalil dan bukti dari Al-Qur’an, As-Sunnah dan fatwa para ulama.

Namun tidak mengapa kita mengulang secara ringkas keyakinan salafy terkait gambar dan ketaatan pada pemerintah muslim.

Terkait Gambar, kami cuplikkan sebagiannya dari artikel “Kenapa Salafy Tidak Mau Difoto / Divideo???, silahkan merujuk kembali untuk lebih lengkapnya:

Dalam hadits-hadits yang ada kita melihat bahwa Nabi kita Muhammad صلى الله عليه وسلمtelah menerangkan hukum, ancaman bagi penggambar dan dampak bagi para pemajangnya.

Adapun hukumnya, dari hadits-hadits tersebut ada isyaratkan haramnya menggambar makhluk bernyawa. Kalau haram maka orang yang melakukan itupun terjatuh dalam dosa.

Adapun ancamannya, diantaranya: orang yang menggambar akan diancam dengan siksaan yang pedih di akhirat, akan dihukum oleh Allah تعالى dengan hukuman yang tidak akan dia bisa lakukan yaitu menghidupkan apa yang dia gambar, dimasukkan dalam golongan makhluk yang paling jelek pada hari kiamat -sehingga nerakalah ancamannya-. Kalau demikian ancamannya bukankan nereka ancamannya??

Adapun ancaman bagi pemasangnya, telah tersirat dalam kemurkaan Rasulullah صلى الله عليه وسلم dan juga tindakan beliau merobek gambar yang terpasang dan doa laknat beliau. Ini menunjukkan pemasangnya juga terancam dosa.Oleh karenanya ‘Aisyah رضي الله عنها bertobat dari hal ini. Akankah seorang muslim berani menanggung dosa?? Lancangkah seorang mukmin membawa dosa di hadapan Allah تعالى kelak???

Adapun dampaknya, diantaranya: sebagaimana disebutkan dalam hadits bahwa malaikat tidak akan masuk ke dalam rumah yang ada gambar benyawanya. Perlu diketahui makhluk yang selalui mendampingi manusia ada dua: malaikat dan syaithan (jin). Kalau malaikat enggan masuk ke rumah tersebut, maka yang masuk adalah makhluk yang jelek yaitu syithan, yang selalu berusaha menjerumuskan manusia dalm lumpur kerusakan dan kesengsaraan.

Dampak yang lain adalah: gambar seperti ini akan mengantarkan pada kesyirikan dan ini adalah dosa yang paling besar dan paling dibenci Allah تعالى, siapa yang terjatuh padanya sampai matinya maka dia tiada akan keluar dari neraka. Semoga Allah selamatkan kita dari kesyirikan dan gambar ini.

Kalau ada yang bertanya: Kok bisa? Jawabannya: Ya ini bisa dan telah terjadi. Sebagaimana dikisahkan oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya:“Abu Ja’far bercerita tentang Wadd (salah satu berhala yang disembah), dan berkata :“Wadd ini, dahulu adalah seorang muslim yang dicintai oleh kaumnya. Tatkala beliau meninggal, kaumnya ini berkumpul disekitar kuburnya di daerah Babil dalam keadaan sangat sedih akan kepergiannya. Ketika Iblis melihat kesedihan mendalam ini, dia datang kepada mereka dalam bentuk seorang manusia sembari berkata :“Sungguh saya telah melihat kesedihan kalian atas meninggal orang ini (Wadd), apakah kalian ingin agar aku (iblis) membuat gambarnya pada tempat berkumpulnya kalian sebagai kenangan, agar kalian senantiasa mengingatnya?” Mereka berkata : Ya. Maka iblis pun membuatkan gambar Wadd untuk mereka dan diletakan pada tempat mereka sebagai kenangan (belum disembah ketika itu).”… Abu ja’far berkata: “Dan anak-anak dari generasi pertama ini mengetahui (mengerti) apa yang diperbuat oleh bapak-bapak mereka, setelah berlalu sekian generasi ke generasi lainnya dan telah terlupakan awal perkara ini (yang mana dibuat hanya sebagai kenangan) sampai anak keturunan mereka yang kesekian ini menjadikan Wadd sebagai sesembahan selain Allah تعالى.” Lihat tafsir Ibnu Katsir terhadap surat Nuh.

Dan inilah wujud kesyirikan yang nyata.

Adapun Terkait Ketaatan Pada Pemerintah Muslim, maka kami cuplikkan sebagian dari artikel “Prinsip Salafy Atau Ahlus Sunnah Terkait Ketaatan Pada Pemerintah“, untuk lebih lengkapnya silahkan merujuk ke sana”

Taat kepada pemimpin negara dan lainnya dari unsur kepemerintahan adalah wajib, asal tidak dalam bermaksiat kepada Allah تعالى. Hal ini berdasarkan firman Allah تعالى;

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ

“Wahai orang-orang yang beriman, taatlah kalian kepada Allah, dan taatlah kalian kepada Rasul, dan juga kepada ulil amri dari kalian.” (An-Nisa’: 59)

Juga berdasarkan sabda Rasulullah صلى الله عليه و سلم dalam hadits Ibnu ‘Umar رضي الله عنهما yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhary dan Imam Muslim;

السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ عَلَى الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ فِيمَا أَحَبَّ وَكَرِهَ، مَا لَمْ يُؤْمَرْ بِمَعْصِيَةٍ؛ فَإِذَا أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ فَلاَ سَمْعَ وَلاَ طَاعَةَ

“Mendegar dan taat itu wajib atas setiap muslim baik dalam perkara yang disukainya atau tidak disukainya, selama tidak diperintah melakukan maksiat. Jika diperintahkan melakukan maksiat maka tidak boleh mendengar tidak boleh taat.”

(Kita tetap wajib taat kepada pemerintah) Sama saja pemerintah itu baik; yaitu yang menunaikan perintah Allah تعالى dan meninggalkan larangan-Nya, atau pemerintah itu jahat; yaitu pelaku kejahatan dan kezhaliman. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah صلى الله عليه وسلم dalam hadits ‘Auf bin Malik رضي الله عنه yang diriwayatkan oleh Imam Muslim;

أَلَا مَنْ وَلِيَ عَلَيْهِ، وَالٍ فَرَآهُ يَأْتِي شَيْئًا مِنْ مَعْصِيَةِ اللَّهِ، فَلْيَكْرَهْ مَا يَأْتِي مِنْ مَعْصِيَةِ اللَّهِ، وَلَا يَنْزِعَنَّ يَدًا مِنْ طَاعَةٍ

“Ingatlah, siapa yang dipimpin oleh suatu pemerintah, lalu dia melihat pemerintah tersebut melakukan suatu tindak kemaksiatan kepada Allah تعالى, maka hendaknya dia membenci tindak maksiatnya kepada Allah تعالى tersebut, dan jangan sampai dia keluar dari prinsip ketaatan kepada pemerintah.”

Sikap menentang dan memberontak kepada pemerintah adalah perbuatan yang diharamkan dalam syari’at islam. Hal ini berdasarkan isi hadits ‘Ubadah bin Shamit رضي الله عنه yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhary dan Imam Muslim;

بَايَعَنَا عَلَى السَّمْعِ وَالطَّاعَةِ فِي مَنْشَطِنَا وَمَكْرَهِنَا، وَعُسْرِنَا وَيُسْرِنَا، وَأَثَرَةً عَلَيْنَا، وَأَنْ لَا نُنَازِعَ الْأَمْرَ أَهْلَهُ إِلَّا أَنْ تَرَوْا كُفْرًا بَوَاحًا عِنْدَكُمْ مِنَ اللَّهِ فِيهِ بُرْهَانٌ

“Kami berbai’at kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم untuk mendengar dan taat, di saat kami suka, di saat kami tidak suka, di saat kesulitan, dan di saat kemudahan, dan untuk mendahulukan beliau atas diri-diri kami. Dan kami berbai’at untuk tidak menentang aturan dari pemerintah, kecuali kalian melihat pada diri pemerintah kekafiran yang nyata, dan kalian memiliki landasan dari Allah تعالى akan hal itu.”

Dan Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda dalam hadits Ummu Salamah رضي الله عنها yang diriwayatkan oleh Imam Muslim;

إِنَّهُ يُسْتَعْمَلُ عَلَيْكُمْ أُمَرَاءُ فَتَعْرِفُونَ وَتُنْكِرُونَ، فَمَنْ كَرِهَ فَقَدْ بَرِئَ، وَمَنْ أَنْكَرَ فَقَدْ سَلِمَ، وَلَكِنْ مَنْ رَضِيَ وَتَابَعَ، قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَلَا نُقَاتِلُهُمْ، قَالَ: لَا مَا صَلَّوْا لَا مَا صَلَّوْا

“Sesungguhnya akan ada bagi kalian pemerintah yang kalian lihat melakukan yang ma’ruf dan kalian lihat melakukan kemungkaran. Siapa yang membenci (kemungkarannya) maka dia telah terbebas (dari ancaman Allah تعالى), dan siapa yang mengingkari (kemungkarannya) maka dia telah selamat (dari ancaman Allah تعالى), dan siapa yang rela dan mengikuti (kemungkarannya maka dialah yang akan dimurkai Allah تعالى).” Para shahabat berkata: “Wahai Rasulullah, tidakkah kami memerangi mereka?” Rasulullah bersabda: “Tidak!! Selama mereka masih menunaikan shalat. Tidak!! Selama mereka masih menunaikan shalat.”

Mengingkari dan membenci di sini maksudnya dilakukan dengan kalbunya, bukan dengan tindakan yang anarkis dan menghujatnya sehingga runtuhlah kewibawaan pemerintah semisalnya. Dan maksud “Selama mereka masih menunaikan shalat” artinya sebagaimana dalam hadits sebelumnya: selama tidak terbukti adanya kekafiran yang nyata yang ada landasannya dari Allah تعالى.

Namun perlu diingat, secara garis besar memang demikian, kekafiran yang nyata yang dilakukan itu menjadi sebab bolehnya kaum muslimin untuk memerangi pemerintah. Namun apakah serta merta kaum muslimin keluar melakukakn perang begitu saja? Ternyata tidak, umat islam itu umat yang tengah-tengah, tidak lembek tidak pula serampangan. Para ulama masih tetap menjelaskan banyak kaidah dan aturan serta batasan terkait permasalahan yang sangat riskan ini. Tujuan ajaran islam adalah menciptakan kabaikan, ketenteraman, dan keamanan di muka bumi.

Keyakinan islam, keyakinan salafy atau ahlus sunnah pengikut Rasulullah صلى الله عليه وسلم adalah sebagaimana dijelaskan di atas. Dan selain itu ahlus sunnah berkeyakinan untuk tidak menentang pemerintah yang zhalim bukan karena tidak mungkin akan mendapatkan pemerintah yang lebih baik, namun mereka tidak menentang pemerintah karena bimbingan Rasul di atas, dan juga mereka tidak menentang pemrintah demi menjaga kelestarian kebaikan umat dan mencegah dari kerusakan yang besar. Karena sikap penentangan, pemberontakan dan penggulingan itu telah terbukti dalam sejarah umat islam kerusakannya lebih besar dari pada kebaikannya, kondisi sebelum penggulingan lebih baik dari pada setelah penggulingan. Baaik dalam hal keamanan, ekonomi, akhlaq – adab dan lainnya. Silahkan mencoba untuk kilas balik sejarah yang ada.

Oleh karenanya ulama salaf (generasi pendahulu) sepakat untuk tidak melakukan penentangan, pemberontakan, dan penggulingan terhadap pemerintah muslim meski mereka zhalim. Dan kebanyakan orang-orang yang melakukan penentangan, pemberontakan, dan penggulingan terhadap pemerintah muslim tidak mendapatkan pertolongan Allah تعالى. Entah ketika dalam usaha penggulingan entah setelah terjadi penggulingan. Kalaupun berhasil menggulingkan, tidaklah mereka mendapatkan pertolongan Allah تعالى setelah penggulingan itu. Justru yang ada adalah kerusakan dan kesengsaraan yang lebih parah dari sebelumnya.

Sehingga seperti perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah رحمه الله: “Tidaklah mereka menolong islam, tidak pula mereka memangkas kemungkaran.

Karena sebab yang paling banyak yang ada dalam usaha penggulingan adalah usaha seseorang untuk bisa duduk dalam kursi tersebut, lalu melakukan sesuatu yang tidak jauh beda dari yang dilakukan oleh orang yang dia gulingkan. Demikan penjelasan para ulama islam.

(Silahkan merujuk ulang ke artikel tersebut).

Dan kami tambahkan:

Kalau sendainya pemerintah itu zhalim, maka bentuk-bentuk kezhaliman pemerintah itu sudah ada modelnya sejak dulu. Namun yang kita garis bawahi adalah bagaimana sikap para ulama ahlus sunnah salafy pada waktu itu.

Kita ambil contoh, pada zaman imam Ahmad tersebar waktu itu keyakinan bahwa Al-Qur’an itu makhluk bukan firman Allah تعلى. Bahkan pemerintah memaksakan keyakinan itu. Meskipun secara tinjauan hukum keyakinan ini merupakan kekufuran keingkaran kepada Allah تعالى, namun ulama pada waktu itu tidak serta merta menghukumi pemerintah waktu itu kafir, karena banyak kemungkinan kenapa pemerintah seperti itu.

Diantara mereka bersabar dan kukuh mengatakan Al-Qur’an adalah firman Allah bukan makhluk dalam deraan ujian yang keras.

Dan point pentingnya. Imam Ahmad dan ulama yang lain tidak menyerukan sama sekali untuk memberontak pada pemerintah. Padahal mereka memiliki kesiapan. Karena penggulingan pemerintah itu kejelekan yang sangat besar. Ada banyak contoh terkait hal ini.

Setelah ini kami katakan kepada yang berkata: “Salafy tidak mau menyimpan foto Pancasila, atau foto Presiden” atau gambar pahlawan dll.

Ukuran kami untuk taat kepada pemerintah bukanlah pemasangan gambar bernyawa yang syari’at mengharamkannya. Tapi ukurannya adalah keyakinan kami yang kami ambil dari syari’at bahwa taat kepada pemerintah muslim itu wajib. Selama pemerintah itu muslim, meskipun zhalim. Sama saja kami memasang gambar tersebut ataupun tidak. Keimanan dalam kalbu kami bahwa taat pemerintah muslim itu wajib menentangnya adalah haram, itulah menjadi sandaran kuat kami. Makanya kami keyakinan ahlus sunnah tidak mengajarkan untuk menentang pemerintah, bahkan tidak untuk membicarakan kejelekan mereka terang-terangan sehingga jatuhlah kewibawaan pemerintah. Kalau menemukan kesalahan maka keyakinan ahlus sunnah adalah menasehatinya secara pribadi dan mendoakan kebaikan untuknya. Karena kebaikan pemerintah adalah kebaikan untuk rakyatnya, kekuatan pemerintah adalah kekuatan untuk rakyatnya, kewibawaan pemerintah adalah kewibawaan untuk rakyatnya.

Dengan tanpa memasang gambar bernyawa dalam ketaatan pada pemerintah maka kami telah malakukan dua ketaatan yang diwajibkan syari’at yaitu:

Kewajiban taat kepada pemerintah muslim dan kewajiban untuk tidak melanggar larangan Allah (yaitu memasang gambar)

Dan bahkan mereka yang memasang gambar “Pancasila ataupun Presiden” atau gambar benyawa secara umum justru menjadikannya sarana untuk menentang pemerintah. Bukankah ini kemaksiatan di atas kemaksiatan??? (Maksiat memasang gambar dan maksiat menentang pemerintah.)

Jadi bisa kita rincikan model orang terkait masalah ini:

  1. Orang yang memasang gambar dan taat pada pemerintah muslim. Maka dia bermaksiat kepada Allah تعالى dari satu sisi, sisi yang lain dia taat kepada Allah تعالى.
  2. Orang yang memasang gambar dan tidak taat pada pemerintah muslim. Maka dia bermaksiat kepada Allah تعالى dalam dua hal. Seperti orang-orang yang menentang pemerintah muslim ‘melalui cara apapun’ bersamaan dengan itu memanfaat berbagai gambar makhluk bernyawa. Terbukti dengan perilaku para pendemo contohnya.
  3. Orang yang tidak memasang gambar dan tidak taat pemerintah muslim. Maka dia bermaksiat kepada Allah تعالى dari satu sisi, sisi yang lain dia taat kepada Allah تعالى.
  4. 4.       Orang yang tidak memasang gambar dan dia taat kepada pemerintah muslim. Maka inilah keyakinan ahlus sunnah (salafy). Tidak terjatuh dalam bermaksiat kepada Allah تعالى. Baik dalam hal gambar ataupun dalam ketaatan kepada pemerintah muslim.

Tercelakan ahlus sunnah kalau memegang prinsip untuk taat kepada syari’at Allah تعالى? Tidak memasang gambar makhluk bernyawa adalah aturan Allah تعالى. Taat kepada pemerintah muslim adalah aturan Allah تعالى. Dan kami merasa tenang ketika melakukan apa yang Allah تعالى syari’atkan.

Renungkan ayat ini, dan inilah yang membuat kami semangat;

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri itu beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (Al-A’raf: 96)

Jika kita beriman terhadap semua yang Allah تعالى tuntunkan, jika kita bertakwa (melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya) maka barakah akan dibukakan dan dilimpahkan untuk kita dan negeri kita dari langit ataupun dari bumi. Tidak maukah kita???

Kalau kita bermaksiat terhadap aturan-Nya, maka tidaklah Allah تعالى itu zhalim, akan tetapi kita mendapat hukuman karena kita menentang-Nya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: