Teruntuk Suadaraku Di Indonesia Yang Menghadapi Musibah (02)

Manfaat-manfaat Ujian Dan Musibah

Ujian dan musibah tersirat padanya manfaat yang banyak, dan akan kami paparkan di sini sepuluh manfaat -biidznillah-, diantaranya:

Pertama: Mengembalikan Para Hamba Untuk Mengingat Allah تعالى.

Allah تعالى menguji kita agar kita kembali kepada-Nya, mengingat-Nya, berdoa kepada-Nya dan bersimpuh di hadapan-Nya. Karena sebelum kita diingatkan dengan musibah tersebut kita termasuk orang yang lalai dan lupa kepada Allah تعالى, atau bisa jadi diantara kita berusaha menghindar dan lupa dari-Nya -kita berlindung dari sikap ini-. Allah تعالى ingin melihatmu berdoa kepada-Nya, memelas kepada-Nya dan engkau mengatakan: “Wahai Rabbku….” dengan penuh keikhlasan dalam kalbumu. Allah تعالى berfirman,

فَأَخَذْنَاهُمْ بِالْبَأْسَاء وَالضَّرَّاء لَعَلَّهُمْ يَتَضَرَّعُونَ

“Maka Kami adzab hukum mereka dengan kesengsaraan dan kemelaratan agar mereka bermohon (kepada Allah) dengan penuh ketundukan dan rendah diri.” (Al-An’am: 42)

Artinya ditimpakan pada mereka musibah setelah musibah, musibah yang berturut-turut. Sehingga dengan itu mereka menjadi berhubungan erat dengan Allah تعالى. Maka berdoalah kepada-Nya dan jangan lalai. Siapapun yang berdoa kepada-Nya Allah تعالى akan mengabulkannya. Tapi apakah harus dikabulkan secara langsung? Disana ada yang mengatakan: “Aku sudah berdoa, tapi buktinya mana, tidak ada pengkabulan, tidak ada jawaban?” Maka kami ingatkan, bahwa Allah تعالى itu maha adil, maha bijak, maha mendengar dan maha mengabulkan doa. Janganlah kita putus asa dari raahmat-Nya. Dan perhatikan hadits Abu Sa’id رضي الله عنه yang diriwayatkan oleh Ahmad dishahihkan oleh Al-Albany dalam “Shahih At-Targhib”, Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيهَا إِثْمٌ وَلا قَطِيعَةُ رَحِمٍ إِلَّا أَعْطَاهُ اللَّهُ بِهَا إِحْدَى ثَلاثٍ: إِمَّا أَنْ تُعَجَّلَ لَهُ دَعْوَتُهُ، وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ فِي الآخِرَةِ، وَإِمَّا أَنْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنْ السُّوءِ مِثْلَهَا، قَالُوا: إِذًا نُكْثِرُ ،قَالَ: اللَّهُ أَكْثَرُ

“Tidaklah seorang muslimpun berdoa dengan suatu doa yang tiada disertai dosa padanya, tidak pula terkandung pemutusan tali persaudaraan kecuai Allah akan memberinya salah satu dari tiga hal: Entah akan disegerakan baginya pengkabulan doanya. Entah akan disimpan baginya untuk di akhirat nanti. Entah akan diganti dengan dipalingkannya dari kejelekan yang semisalnya.” Mereka berkata: “Kalau begitu kami akan memperbanyak (doa).” Beliau bersabda: “Allah lebih banyak (pengkabulannya).”

Ingat perbendaharaan Allah تعالى itu tidaklah akan habis, meskipun semua makhluk dari awal sampai akhir semua meminta kepada-Nya dan dikabulkan semua itu, maka hal itu tidaklah mengurangi perbendaharaan-Nya kecuali seperti jarum yang dimasukkan pada samudra, sebagaimana hal ini disebutkan dalam sabda Rasul yang lain. Allah تعالى juga berfirman,

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِي إِذَا دَعَانِ

“Dan jika hamba-Ku bertanya kepadamu tentang-Ku maka sesungguhnya Aku dekat, Aku mengabulkan doa orang yang berdoa jika dia berdoa pada-Ku.” (Al-Baqarah: 186)

Kedua: Agar Orang Yang Teruji Dengan Musibah Senantiasa Memohon Ampun Kepada Allah تعالى.

Ketika kita tertimpa musibah maka hendaknya segera memohon ampun kepada Allah تعالى, maka hendaknya kita segera mengakui dosa-dosam kita sebelum engkau memohon ampun kepada Rabb kita, betapa banyak dosa-dosa kita. Dan ingatlah, betapa besar dan luas ampunan Rabb kita. Tidak akan mampu kita menebusnya dengan harta ataupun kedudukan. Namun yang dibutuhkan adalah kalbu yang bersyukur, lidah yang selalu berdzikir dan jiwa yang selalu bertaubat memohon ampunan kepada Allah تعالى.

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda dalam hadits Abu Bakr رضي الله عنه yang diriwayatkan oleh Ahmad, At-Tirmidzy dan dishahihkan oleh Al-Albany dalam “Shahih Al-Jami'”:

«مَا مِنْ عَبْدٍ يُذْنِبُ ذَنْبًا، فَيُحْسِنُ الطُّهُورَ ثُمَّ يَقُومُ فَيُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ، ثُمَّ يَسْتَغْفِرُ اللَّهَ إِلا غَفَرَ اللَّهُ لَهُ» ثُمَّ قَرَأَ هَذِهِ الآيَةَ: وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُواْ فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُواْ أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُواْ اللّهَ فَاسْتَغْفَرُواْ لِذُنُوبِهِمْ وَمَن يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ اللّهُ وَلَمْ يُصِرُّواْ عَلَى مَا فَعَلُواْ وَهُمْ يَعْلَمُونَ

“Tidaklah seorang hamba terjatuh dalam dosa, kemudian dia bersuci dengan baik lalu melakukan shalat dua raka’at kemudian memohon ampun kepada Allah kecuali Allah akan mengampuninya.” Kemudian beliau membaca ayat: “Dan orang-orang yang jika melakukan perbuatan tercela atau menzhalimi diri-diri mereka mereka ingat kepada Allah lalu memohon ampun (pada-Nya) akan dosa-dosanya, dan siapakah yang akan mengampuni dosa kalau bukan Allah, dan mereka tidak terus berada dalam dosa yang mereka lakukan sedang mereka mengetahui.”

Ketiga: Agar Tinggi Kedudukannya.

Kita memiliki contoh teladan yang baik dalam hal ini, yaitu bapak orang-orang yang mengesakan Allah تعالى, beliau adalah Nab Ibrahim عليه السلام. Allah تعالى berfirman,

وَإِذِ ابْتَلَى إِبْرَاهِيمَ رَبُّهُ بِكَلِمَاتٍ فَأَتَمَّهُنَّ قَالَ إِنِّي جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًا قَالَ وَمِن ذُرِّيَّتِي قَالَ لاَ يَنَالُ عَهْدِي الظَّالِمِينَ

“Dan tatkala Rabbmu menguji Ibrahim dengan suatu “kalimat” lalu dia menyempurnakannya. Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku menjadikanmu pemimpin bagi manusia.” Ibrahim berkata: “Dan juga dari anak keturunanku.” Allah berfirman: “Janjiku tidaklah akan diperuntukkan bagi orang-orang yang zhalim.” (Al-Baqarah: 124)

Para ahli tafsir ada yang mengatakan bahwa kata “kalimat” yang diujikan pada Ibrahim adalah perintah untuk menyembelih anaknya, yang laing mengatakan diuji dengan penegakkan syari’at islam.

Keempat: Luluhnya Kalbu Dan Tunduk Kepada Allah تعالى.

Orang yang teruji jika menyadari dirinya maka dia akan luluh kalbunya dan akan tunduk kepada Allah تعالى. Sehingga dia akan memohon kepada-Nya dengan tulus dan belajar untuk bersabar seperti nabi Ayyub dan belajar untuk bersyukur seperti nabi Nuh serta belajar untuk ikhlas seperti nabi Yusuf. Semua kisah mereka disebutkan dalam Al-Qur’an.

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda sebagaimana dalam hadits Abu Hurairah رضي الله عنه diriwayatkan oleh Al-Hakim dishahihkan oleh Al-Albany dalam “Shahih Al-Jami'”:

قَالَ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: إِذَا ابْتَلَيْتُ عَبْدِي المؤْمِنَ فَلَمْ يَشْكُنِي إِلَى عُوَّادِهِ أَطْلَقْتُهُ مِنْ إِسَارِي، ثُمَّ أَبْدَلْتُهُ لَحْمًا خَيْرًا مِنْ لَحْمِهِ وَدَمًا خَيْرًا مِنْ دَمِهِ؛ ثُمَّ يَسْتَأْنِفُ العَمَلَ

“Allah yang maha suci berfirman: “Jika aku telah menguji hamba-Ku yang mukmin, lalu dia tidak mengadukanku pada orang yang mengunjunginya kecuali aku bebaskan dia dari ujian-Ku, kemudian Aku gantikan baginya daging yang lebih baik dari dagingnya, ganti darah yang lebih baik dari darahnya, kemudian dia memulai beramal.”

Kelima: Untuk Menampakkan Mana Yang Mencintai Dan Mana Yang Membenci.

Ketika datang musibah akan terlihat mana yang baik dan mana yang jelek, mana yang perhatian pada saudaranya dan mana yang tidak melirik sama sekali, mana yang tersentuh kalbunya dan mana yang justru mencerca dan menyalahkan. Ingatkan kita dengan kejadian yang Allah تعالى sebutkan dalam Al-Qur’an dalam surat An-Nur, sebuah kisah tentang Ummul Mukminin ‘Aisyah  رضي الله عنها ketika disebarkan berita bahwa beliau melakukan perbuatan tidak pantas. Maka kaum mukminin yang mencintainya terasa tersentuh dan tidak bisa menerima hal itu, adapun kaum munafiq begitu bahagia membuat api fitnah itu makin membara.

Keenam: Merasakan Betapa Indahnya Nikmat Allah تعالى.

Tidak sedikit dari kita yang lalai bahwa apa yang kita nikmati ini semua datangya dari Rabb langit dan bumi yaitu Allah تعالى. Kita terkadang tidak merasakan indahnya nikmat kemenangan kecuali kita telah dikalahkan, kita tidak merasakan indahnya nikmat ketenagan dan keamanan kecuali setelah datangnya bencana, dan kita tidak merasakan indahnya nikmat kecukupan kecuali setelah datangnya kemiskinan.

Rasulullah صلى الله عليه وسلم menasehatkan kepada kita sebagaimana dalam hadits At-Tirmidzy yang dihasankan oleh Al-Albany dalam “Shahih Al-jami'”:

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي عَافَانِي مِمَّا ابْتَلاكَ بِهِ، وَفَضَّلَنِي عَلَى كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقَ تَفْضِيلاً لَمْ يُصِبْهُ ذَلِكَ الْبَلاءُ

“Segala puji bagi Allah yang telah menghindarkan aku dari ujian yang menimpamu, dan mengutamakan aku dari sekian banyak makhluk dengan suatu keutamaan yang tidak ada musibah yang menimpanya.”

Ketujuh: Menyeru Kita Untuk Membaca Dan Merenungi Isi Al-Qur’an.

Karena padanya ada banyak pelajaran dari kisah umat yang telah lewat bagaimana mereka diadzab, ditimpakan pada mereka musibah, dan apa sebabnya mereka diberi musibah.

Kedelapan: Untuk Membersihkan Dan Mensucikan Kita Dari Dosa.

Sebagaimana hal ini telah lewat pembahasannya, lihat kembali pada pembahasan “Tingkatan-tingkatan ujian” pada pembagian yang Kedua: Tingkatan Pembersihan Dan Pensucian Dari Dosa Dan Kesalahan

Kesembilan: Untuk Mewujudkan Tauhid Yang Sempurna Dari Seorang Hamba Bagi Allah تعالى.

Ketika datang suatu ujian maka hendaknya kita menghadap kepada Allah تعالى semata dengan kalbu yang khusyu’ dan memohon kepada-Nya serta mengesakan-Nya. Rasulullah صلى الله عليه وسلم mengajarkan pada kita sebagaimana dalam hadits Muslim,

ضَعْ يَدَكَ عَلَى الَّذِى تَأَلَّمَ مِنْ جَسَدِكَ وَقُلْ بِاسْمِ اللَّهِ. ثَلاَثًا. وَقُلْ سَبْعَ مَرَّاتٍ أَعُوذُ بِاللَّهِ وَقُدْرَتِهِ مِنْ شَرِّ مَا أَجِدُ وَأُحَاذِرُ

“Taruh telapak tanganmu di atas bagian yang engkau rasakan sakit dari jasadmu dan ucapkan: بِاسْمِ اللَّهِ (Dengan nama Allah) sebanyak tiga kali, dan ucapkan sebanyak tujuh kali: أَعُوذُ بِاللَّهِ وَقُدْرَتِهِ مِنْ شَرِّ مَا أَجِدُ وَأُحَاذِرُ (Aku berlindung kepada Allah dan sifat Maha Mampu-Nya dari kejelekan perkara yang aku temukan dan aku waspadai).”

Dan jika kita terkena musibah Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa Rasulullah صلى الله عليه وسلم ketika terkena musibah berkata:

لا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ الْعَظِيمُ الْحَلِيمُ، لا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ، لا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَرَبُّ الأَرْضِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيمِ

“Tiada sesembahan yang benar kecuali Allah yang maha besar juga maha lembut, Tiada sesembahan yang benar kecuali Allah Rabb ‘Arsy yang luas, Tiada sesembahan yang benar kecuali Allah Rabb langit dan Rabb bumi dan Rabb ‘Arsy yang mulia.”

Dishahihkan oleh Al-Albany dalam “Shahih Al-Jami'”.

Kesepuluh: Untuk Mendekatkan Kepada Allah تعالى Dan Agar Kokoh Istiqamah Di Atas Hal Itu Sampai Mati.

Apa Rahasia Dari Turunnya Ujian Dan Musibah???

Allah تعالى menguji hambanya bukan untuk membinasakannya, akan tetapi untuk menyadarkannya dan mendidiknya. Karena bisa jadi ada manusia yang dia itu sombong dengan keadaan dirinya lalu dia diuji dengan penyakit yang tidak kunjung sembuh. Sampai dia merasa tersadar dan kembali kepada bimbingan Allah تعالى. Bisa jadi pula ada orang yang terus menumpuk maksiat, berupa kesyirikan, perzinaan, riba rentenir dan sebagainya, lalu Allah تعالى menurunkan musibah disebabkan orang-orang ini. Hal ini agar mereka tahu bahwa Allah  تعالى yang menciptakan mereka semua itu lebih kuat, Rabb yang mereka maksiati itu maha mampu memberi mereka pelajaran. Allah تعالى berfirman,

وَمَا أَصَابَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَن كَثِيرٍ

“Dan apa yang menimpa kalian berupa musibah, maka hal itu akibat ulah tangan-tangan kalian. Dan Allah memaafkan banyak hal.” (Asy-Syura: 30)

Dan Allah تعالى berfirman,

ذَلِكَ جَزَيْنَاهُم بِبَغْيِهِمْ وِإِنَّا لَصَادِقُونَ

“Yang demikian itu Kami membalas mereka akibat kezhaliman mereka. Dan Kami itu maha benar.” (Al-An’am: 146)

Perbedaan Antara Hukuman Syar’iyah Dan Hukuman Takdir

Hukuman syar’iyah itu hukuman yang khusus yang ditegakkan secara syar’i di muka bumi bagi yang berbuat kesalahan. Contohnya hukuman bagi pezina dengan rajam atau cambuk, hukuman bagi pencuri dengan dipotong tangannya, hukuman bagi pembunuh dibalas bunuh, dan lain sebagainya.

Adapun hukuman takdir adalah hukuman yang tidak terkena hanya pada yang berbuat salah akan tetapi akan melanda seluruh masyarakat. Dalam hadits Ibnu ‘Umar رضي الله عنهما yaang dishahihka Al-Albany dalam “Shahih Al-Jami'” Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

خَمْسٌ إِذَا ابْتُلِيتُمْ بِهِنَّ وَأَعُوذُ بِاللَّهِ أَنْ تُدْرِكُوهُنَّ: لَمْ تَظْهَرْ الْفَاحِشَةُ فِي قَوْمٍ قَطُّ؛ حَتَّى يُعْلِنُوا بِهَا إِلا فَشَا فِيهِمُ الطَّاعُونُ وَالأَوْجَاعُ الَّتِي لَمْ تَكُنْ مَضَتْ فِي أَسْلافِهِمْ الَّذِينَ مَضَوْا، وَلَمْ يَنْقُصُوا الْمِكْيَالَ وَالْمِيزَانَ إِلا أُخِذُوا بِالسِّنِينَ وَشِدَّةِ الْمَئُونَةِ وَجَوْرِ السُّلْطَانِ عَلَيْهِمْ، وَلَمْ يَمْنَعُوا زَكَاةَ أَمْوَالِهِمْ إِلا مُنِعُوا الْقَطْرَ مِنَ السَّمَاءِ، وَلَوْلا الْبَهَائِمُ لَمْ يُمْطَرُوا، وَلَمْ يَنْقُضُوا عَهْدَ اللَّهِ وَعَهْدَ رَسُولِهِ إِلا سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ عَدُوًّا مِنْ غَيْرِهِمْ؛ فَأَخَذُوا بَعْضَ مَا فِي أَيْدِيهِمْ وَمَا لَمْ تَحْكُمْ أَئِمَّتُهُمْ بِكِتَابِ اللَّهِ وَيَتَخَيَّرُوا مِمَّا أَنْزَلَ اللَّهُ إِلا جَعَلَ اللَّهُ بَأْسَهُمْ بَيْنَهُمْ

“Lima perkara jika kalian diuji dengannya -dan aku berlindung kepada Allah kalian jangan sampai menemuinya-: Tidaklah banyak muncul perbuatan buruk (zina, homoseks, lesbian dll) pada suatu kaum sampai hal itu mereka lakukan terang-terangan kecuali akan rata pada mereka wabah tha’un, dan berbagai penyakit yang belum pernah ada pada pendahulu mereka. Dan tidaklah mereka curang mengurangi timbangan kecuali akan ditimpakan pada mereka paceklik, sulitnya penghasilan dan pemimpin yang jahat pada mereka. Dan tidaklah mereka menahan zakat harta mereka kecuali akan ditahan dari mereka curahan air dari langit, kalaulah bukan karena keberadaan binantang meleta niscaya mereka tidak akan dapat hujan. Dan tidaklah ada orang yang melanggar janji Allah dan janji Rasul-Nya kecuali Allah akan kuasakan pada mereka musuh dari selain mereka, maka mereka merampas sebagian dari apa yang merek miliki. Dan tidaklah pemimpin mereka tidak berhukum dan mereka mengedepankan hukum dari apa yang Allah turunkan kecuali Allah akan jadikan kesialan mereka diantara mereka.”

Tidaklah Bencana Yang Ada Ini Cuma Kejadian Alam Semata Akan Tetapi….!

Tidaklah perlu bagi kita untuk menghias-hiasi bencana dengan mengatakan ini kejadian alam saja. Tidak seharusnya kita menyandarkan segala sesuatu kepada kejadian alam. Allah تعالى berfirman,

وَإِذَا أَرَادَ اللّهُ بِقَوْمٍ سُوءًا فَلاَ مَرَدَّ لَهُ وَمَا لَهُم مِّن دُونِهِ مِن وَالٍ

“Dan jika Allah menginginkan untuk menimpakan pada suatu kaum suatu kejelekan maka tiada yang bisa menghalanginya. Dan tiada bagi mereka dari selain Allah seorang pelindungpun.” (Ar-Ra’d: 11)

Banyak orang yang lupa dan tidak tahu ayat ini, lalu mengatakan bahwa bencana itu cuma kejadian alam dan tidak ada kaitannya dengan maksiat. Rasul sendiri takut dengan ayat-ayat Al-Qur’an yang berisi ancaman Allah تعالى, lalu beliau bersimpuh dan memohon kepada Allah تعالى. Apakah kita akan mengatakan bahwa Rasulullah صلى الله عليه وسلم tidak paham kejadian alam!!?? Yang benar adalah kejadian yang ada ini semuanya terjadi karena kehendak dan ketentuan Allah تعالى. Jika terjadi suatu musibah dan bencana maka lihatlah dan telitilah bahwa di sana ada penyebabnya, entah dosa yang tiak kunjung ditaubati, entah lalai dari Allah تعالى dan sebagainya. Allah تعالى berfirman,

وَلَوْ يُؤَاخِذُ اللّهُ النَّاسَ بِظُلْمِهِم مَّا تَرَكَ عَلَيْهَا مِن دَآبَّةٍ وَلَكِن يُؤَخِّرُهُمْ إلَى أَجَلٍ مُّسَمًّى فَإِذَا جَاء أَجَلُهُمْ لاَ يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلاَ يَسْتَقْدِمُونَ

“Dan kalau Allah menghukum manusia karena kezhalimana mereka maka tidaklah Allah akan meninggalkan di atasnya binatang melata pun, akan tetapi Allah menangguhkan mereka sampai waktu yang ditentukan. Dan jika telah datang waktu mereka, maka Allah tidak akan mengakhirkan barang sesaatpun dan tidak pula memajukannya.” (An-Nahl: 61)

Jika Allah تعالى memberi tangguh itu artinya memberi kesempatan untuk bertaubat, dan tidaklah dosa terangkat kecuali dengan taubat. Dalam hadits Abu Musa رضي الله عنه diriwayatkan oleh Al-Bukhary – Muslim,

إِنَّ اللهَ لَيُمْلِي لِلظَّالِمِ حَتَّى إِذَا أَخَذَهُ لَمْ يُفْلِتْهُ قَالَ ثُمَّ قَرَأَ [وَكَذَلِكَ أَخْذُ رَبِّكَ إِذَا أَخَذَ الْقُرَى وَهِيَ ظَالِمَةٌ إِنَّ أَخْذَهُ أَلِيمٌ شَدِيدٌ]

“Sesungguhnya Allah benar-benar menangguhkan bagi orang yang zhalim sampai jika Dia hendak menghukumnya maka Allah tidak melepaskannya.” Kemudian belaiu membaca (ayat): “Dan demikian hukuman Rabbmu jika Dia menghukum suatu negeri yang negeri itu zhalim. Sesungguhny hukuman Allah itu sangat menyakitan dan sangat keras.”

Perbedaan Antara Hukuman Dan Ujian

Untuk mengetahui hal ini mungkin perlu melihat kondisi perseorangan. Akan tetapi bisa kita membedakan kedua hal tersebut dengan melihat hal-hal berikut:

Pertama: Ujian itu cobaan dan hukuman adalah balasan yang disegerakan.

Hukuman itu ada bagi orang yang gagal dalam ujiannya, jika dia orang kafir nan jahat misalnya maka apa yang menimpa dirinya akan tergolong hukuman. Contohnya keadaan Qarun orang dari umat nabi Musa, Allah تعالى menghukumnya karena dia tidak lulus ketika diuji dengan harta,

فَخَسَفْنَا بِهِ وَبِدَارِهِ الأَرْضَ فَمَا كَانَ لَهُ مِن فِئَةٍ يَنصُرُونَهُ مِن دُونِ اللَّهِ وَمَا كَانَ مِنَ المُنتَصِرِينَ

“Maka kami tenggelamkan dia dengan hartanya dan rumahnya ke dalam bumi, mak tiada baginya suatu kelompok yang menolongnya selain Allah, dan dia tidak termasuk orang yang dapat pertolongan.” (Al-Qashash: 81)

Kedua: Ujian itu terkait dengan sebab adapun hukuman itu hasil dari penyimpangan.

Ketiga: Ujian itu kembalinya pada keistiqamahan adapun hukuman kembalinya pada bertambahnya kefasikan.

Jika seseorang itu shalih, bertakwa maka apa mengenainya itu adalah ujian. Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda dalam hadits yang diriwayatkan Ahmad dan dishahihkan oleh Al-Albany dalam “Shahih Al-Jami'”:

أَشَدُّ النَّاسِ بَلاءً الأَنْبِيَاءُ، ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ؛ يُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ…

“Orang yang paling berat ujiannya adalah para nabi, kemudian orang yang semisal dengan mereka kemudian orang yang semisal dengan mereka. Orang akan diuji sebagaimana kadar agamanya…..”

Keempat: Ujian itu isyarat terbukanya jalan meraih sesuatu adapun hukuman isyarat diharamkan dari sesuatu tersebut.

Allah تعالى berfirman,

وَإِذِ ابْتَلَى إِبْرَاهِيمَ رَبُّهُ بِكَلِمَاتٍ فَأَتَمَّهُنَّ قَالَ إِنِّي جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًا قَالَ وَمِن ذُرِّيَّتِي قَالَ لاَ يَنَالُ عَهْدِي الظَّالِمِينَ

“Dan tatkala Rabbmu menguji Ibrahim dengan suatu “kalimat” lalu dia menyempurnakannya. Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku menjadikanmu pemimpin bagi manusia.” Ibrahim berkata: “Dan juga dari anak keturunanku.” Allah berfirman: “Janjiku tidaklah akan diperuntukkan bagi orang-orang yang zhalim.”

Kelima: Ujian itu berlandaskan pada kecintaan Allah تعالى adapun hukuman berlandaskan pada kemarahan Allah تعالى.

Oleh karena itu, kalau saja ada suatu musibah yang datang maka ingatlah ayat ini,

فَاصْبِرْ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنبِكَ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ…

“Maka bersabarlah, sesungguhnya janji Allah itu benar, dan memohonlah ampun dan bertasbihlah dengan memuji Rabbmu…” (Ghafir: 55)

Keenam: Ujian itu menyatukan umat adapun hukuman itu mencerai beraikan umat.

Ketujuh: Ujian itu butuh ketakwaan dan kesabaran adapun hukuman butuh taubat dan permohonan ampun.

Bagaimana Kita Menghadapi Musibah Dan Ujian???

Pertama: Kuatkan iman dan berpegang teguh dengan ajaran Allah تعالى.

Allah تعالى berfirman,

وَمَن يَعْتَصِم بِاللّهِ فَقَدْ هُدِيَ إِلَى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ

“Dan siapa yang berpegang teguh dengan Allah maka sungguh telah ditunjuki pada jalan yang lurus.” (Ali-‘Imran: 101)

Kedua: Ambillah petunjuk dari Nabimu.

Bagaimana sekian banyak musibah beliau hadapi, berbagai gangguan dakwah beliau terima. Namun semua itu beliau hadapi dengan baik, dengan sabar dan mencari keridhaan Allah تعالى. Cukup kisah beliau di Tha’if sebagai contoh ketika beliau dilempari sampai berdarah, beliau ditawari oleh Jibril untuk memberi perintah pada malaikat yang telah diijinkan oleh Allah تعالى untuk diperintah, namun beliau memilih bersabar dan berdoa agar anak turunnya menjadi orang yang bertauhid.

Demikian semoga apa yang kami sajikan membawa manfaat untuk kita semua. Selama nafas masih ada belum ada kata terlambat untuk menata apa yang telah luluh lantak, menata apa yang telah rata dengan tanah, masih ada waktu dan kesempatan untuk memperbaiki apa yang telah rusak, diri kita, kehidupan kita dan tempat kita.

Hendaknya kita berusaha menjadikan tempat kita, desa kita, negeri kita menjadi tempat yang diberkahi. Kalau sudah diberkahi Allah تعالى maka dengan sendirinya akan diikuti keamanan, kemakmuran dan kesejahteraan. Yang mana semua itu bisa tercapai dengan keimanan dan ketakwaan. Allah تعالى berfirman,

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُواْ وَاتَّقَواْ لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاء وَالأَرْضِ

“Dan kalaulah penduduk negeri itu beriman dan bertakwa niscaya Kami akan bukakan bagi mereka barakah yang banyak dari langit dan bumi.” (Al-A’raf: 96)

Disadur dengan beberapa tambahan oleh:

‘Umar Al-Indunisy

Darul Hadits – Ma’bar, Yaman

5 responses to this post.

  1. هذا حل المشكلة حقا لي ، شكرا لك!

    Balas

  2. Posted by irsyadi on 13/12/2010 at 02:49

    MOHON ijin men copy untnk di sebarkan da’wah syukron

    Balas

  3. Jazakallahu khoir atas ilmunya akhi. Sungguh sangat bermanfaat. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala membalas usaha antum semua yang ada di situs thalibmakbar dengan pahala yang berlipat dan mengampuni dosa-dosa antum dan ana serta seluruh kaum muslimin pada umumnya. Dan semoga Allah mewafatkan kita semua di atas ISLAM yang shahih sebagaimana Rasullulah dan para shabat berjalan diatasnya.

    Ana ijin copy akh artikel yang lalu maupun yang akan akan datang insya allah di situs thalibmakbar.wordpress.com ini untuk dakwah.

    Barakallahu fiikum

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: