Teruntuk Saudaraku Di Indonesia Yang Menghadapi Musibah

بسم الله الرحمن الرحيم

Teruntuk saudara-saudaraku di Indonesia

Teruntuk saudara-saudara kami yang sedang menghadapi ujian serta musibah

Semoga bingkisan ini menyejukkan kalbu kita, melapangkan dada kita, menyadarkan kita untuk berbenah diri dan menumbuhkan semangat kita menghadapi tantangan hidup.

Saudaraku,

Yang perlu kita ingat adalah bahwa semua perkara yang berbentuk musibah dan ujian, semuanya adalah sunnatullah yang Allah تعالى tentukan untuk terjadi di dunia ini.

Berikut kami paparkan beberapa pembahasan ahlul ilm terkait dengan masalah yang disebut dengan “musibah dan ujian”. Pembahasan ini diambil dari wahyu yang datang dari Allah تعالى baik itu Al-Qur’an ataupun sabda Rasulullah صلى الله عليه وسلم.

Secara Asal Di Dunia Ini Adalah Ujian

Saudaraku, secara asal dunia ini penuh ujian, penuh kepayahan. Allah تعالى berfirman,

لَقَدْ خَلَقْنَا الإِنسَانَ فِي كَبَدٍ

“Sungguh Kami telah ciptakan manusia berada dalam susah payah.” (Al-Balad: 4)

Disebutkan dengan “dalam susah payah” yang maksudnya adalah manusia berada dan dikelilingi kepayahan. Dan kata “manusia” adalah umum mencakup yang beriman ataupun yang kafir. Maka ini menunjukkan bahwa manusia di dunia ini akan terus diberi ujian. Yang menguatkan hal ini adalah firman Allah تعالى yang lain,

إِنَّا خَلَقْنَا الإِنسَانَ مِن نُّطْفَةٍ أَمْشَاجٍ نَّبْتَلِيهِ

“Sesungguhnya Kami menciptakan manusia dari air mani yang bercampur, yang Kami hendak mengujinya.” (Al-Insan: 2)

Disebutkan dalam ayat bahwa manusia akan diuji, dan ini adalah suatu perkara yang mesti terjadi dan harus. Bisa jadi seseorag merasakan nikmat dan kebahagiaan di dunia, namun hanya sekedar lewat tidaklah kekal. Seseorang merasa bahagia dengan adanya anak-anak, namun kemudian dia meninggalkan mereka atau justru mereka meninggal lebih dulu. Seseorang merasa bahagia dengan hartanya yang melimpah, namun ketika datang ajal dia meninggalkan semua itu.

Kalau begitu dimanakah kenikmatan dan kebahagiaan yang hakiki yang tidak pernah punah, tidak pernah sirna???

Kenikmatan Hakiki Adalah Kenikmatan Di Surga Yang Kekal

Itulah kenikmatan yang kekal abadi yang disediakan oleh Allah تعالى bagi hamba-Nya yang beriman, yang bertakwa dan bersabar, yang memuji Allah تعالى dan bersyukur kepada-Nya. Allah تعالى berfirman,

إِنَّ الأَبْرَارَ لَفِي نَعِيمٍ وَإِنَّ الْفُجَّارَ لَفِي جَحِيمٍ

“Sesungguhnya orang-orang yang banyak berbakti benar-benar dalam surga yang penuh kenikmatan. Dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar dalam neraka.” (Al-Infithar: 13-14)

Dalam hadits yang dihasankan oleh Syaikh Al-Albany dalam As-Silsilah, dari Jabir, ‘Ali dan selainnya رضي الله عنهم bahwa Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda,

أَتَانِي جِبْرِيلُ فَقَالَ: يَا مُحَمَّد ! عِشْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مَيِّتٌ، وَ أَحْبِبْ مَنْ شِئْتَ فَإِنَّكَ مُفَارِقُهُ، وَ اعْمَلْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مَجْزِيٌّ بِهِ، وَ اعَلْمْ أَنَّ شَرَفَ المُؤْمِنِ قِيَامُهُ بِالليْلِ، وَ عِزَّهُ اسْتِغْنَاؤُهُ عَنِ النَّاسِ

“Jibril datang kepadaku lalu berkata: “Wahai Muhammad, hiduplah sebagaimana engkau mau maka sesungguhnya engkau akan mati, cintai siapapun yang engkau mau maka sesungguhnya engkau akan berpisah dengannya, berbuatlah semaumu maka sesungguhnya engkau akan dibalas atas perbuatan itu. Dan ketahuilah, bahwa keagungan seorang mukmin adalah penegakkan shalat malamnya, dan kemuliaannya adalah rasa cukupnya dia dari (milik) manusia.”

Kalau begitu kenikmatan hakiki itu adalah di surga, karena yang di dunia ini hanya sekedar lewat saja.

Banyaknya Ujian Itu Untuk Membedakan Mana Yang Baik Dan Mana Yang Jelek

Kalau begitu harus ada di sana pembeda untuk mengetahui mana yang berhak masuk surga dan mana yang berhak masuk neraka, mana yang baik dan mana yang jelek. Sehingga orang yang beriman, yang sabar terbedakan dari yang membangkang dan kafir. Allah تعالى berfirman,

وَلَوْ شَاء اللّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَكِن لِّيَبْلُوَكُمْ فِي مَآ آتَاكُم فَاسْتَبِقُوا الخَيْرَاتِ إِلَى الله مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا

“Kalau saja Allah menginginkan niscaya Dia akan menjadikan kalian ini umat yang satu, akan tetapi Allah berkehendak menguji kalian dalam apa yang dianugerahkan pada kalian. Maka berlombalah melakukan kebajikan. Kepada Allahlah kembalinya kalian semua.” (Al-Ma’idah: 48)

Yang ini kaya yang ini miskin, yang ini sehat yang ini sakit, yang ini sedang terkena musibah yang ini sedang foya-foya, semuanya ini sedang diuji. Allah تعالى befirman,

وَنَبْلُوكُم بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

“Dan Kami menguji kalian dengan kejelekan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan hanya kepada Kamilah kalian dikembalikan.” (Al-Anbiya’: 35)

Yang ini diuji dalam hal rizki, dan ujian dalam hal rizki adalah ujian yang tidak ringan bagi sebagian jiwa manusia. Orang-orang merasa sedih dan takut kalau diuji dengan kefakiran. Namun dia tidak sadar bahwa orang yang fakir hari ini adalah orang yang kaya di esok hari, orang yang kaya di esok hari adalah orang yang kemarin fakir. Harta itu berputar dari tangan-tangan manusia, dan kita semua akan meninggalkannya kemudian kita diperadilkan di akhirat nanti, dari mana harta itu dan kemana dipergunakan?. Yang ini diuji dengan adanya musibah dan petaka, namun terkadang dia lupa bahwa ada hikmah besar dibalik semua ini yang Allah تعالى inginkan.

Yang lain diuji dengan punya istri yang tidak taat serta suka membangkang dan perilakunya buruk. Sementara yang lain diuji dengan anak yang durhaka. Ketahuilah Allah تعالى itu menguji pada sesuatu yang paling berharga yang manusia miliki, hartanya, dirinya dan selainnya. Allah تعالى berfirman,

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوفْ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الأَمَوَالِ وَالأنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُواْ إِنَّا لِلّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعونَ أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ

“Dan Kami benar-benar akan menguji kalian dengan sedikit rasa takut, kelaparan, kekurangan harta, (kehilangan) jiwa dan buah-buahan. Dan berilah kabar gembira bagi orang-orang yang bersabar. Yaitu orang yang jika musibah menimpa mereka, mereka mengatakan إِنَّا لِلّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعونَ (Sesungguhnya kami dari Allah dan sesungguhnya kami akan kembali pada-Nya). Mereka itulah orang mendapatkan shalawat dari Rabb mereka, serta rahmat. Dan mereka itulah orang yang mendapat petunjuk.” (Al-Baqarah: 155-157)

Kata “musibah” mencakup semua jenis musibah. Semua yang dirasakan jelek oleh seorang mukmin sekecil apapun adalah musibah, maka hendaknya dia mengucapkan kalimat di atas (إِنَّا لِلّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعونَ). Maka Allah menjajikan dalam ayat di atas bahwa orang yang bersabar dan mengucapkan kalimat tersebut ketika tertimpa musibah ia akan diampuni Allah تعالى dan akan mendapatkan rahmat. (Lihat tafsir Ibnu Katsir).

Kesabaran Adalah Anugerah Yang Sangat Besar

Disaat datangnya ujian manusia dituntut untuk bisa bersikap dengan baik, diantara sikap yang baik dalam menghadapi ujian adalah sikap bersabar. Karena kesabaran itu merupakan anugerah yang sangat besar yang Allah تعالى berikan pada hamba-Nya. Namun tidak semua orang diberi anugerah ini. Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda sebagaimana dalam hadits Muslim,

عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

“Sungguh mengagumkan urusan seorang mukmin, sesungguhnya semua urusannya itu baik, dan tidaklah hal ini untuk seorangpun kecuali untuk seorang mukmin. Jika kebahagiaan mendatanginya dia bersyukur dan itu baik baginya, jika kesulitan menimpanya dia bersabar dan itu baik baginya.”

Dan ketahuilah termasuk dari bentuk besarnya rahmat Allah تعالى adalah dijadikannya pada setiap satu kesulitan ada dua kemudahan. Sebagaimana hal ini diriwayatkan dari Zaid bin Aslam diriwayatkan dan dishahihkan oleh Al-Baihaqy dalam Asy-Su’ab: “Abu ‘Ubaidah mengirim surat kepada ‘Umar bin Al-Khaththab menyebutkan bahwa ada gabungan besar dari tentara Romawi dan apa yang ditakutkan. Maka ‘Umar membalas suratnya berkata: “Amma Ba’du, Sesungguhnya bagaimanapun turun kepada seorang hamba yang mukmin suatu kesulitan maka Allah تعالى menjadikan setelah itu kemudahan. Tidaklah satu kesulitan akan mengalahkan dua kemudahan. Allah تعالى berfirman,

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

“Maka sesungguhnya bersama kesusahan itu ada kemudahan, sesungguhnya bersama kesusahan ada kemudahan.”

Kesabaran Itu Pahit Sebagaimana Namanya

Karena demikian maka seseorang tidak bisa bersabar jika mengandalkan dirinya semata tanpa ada pertolongan dari Allah تعالى. Allah تعالى berfirman,

وَاصْبِرْ وَمَا صَبْرُكَ إِلاَّ بِاللّهِ

“Dan bersabarlah, dan tidaklah kesabaranmu itu ada kecuali dengan pertolongan Allah.” (An-Nahl: 127)

Bisa Jadi Datangnya Ujian Dan Musibah Menyempitkan Dada Seseorang

Seseorang yang sedang diuji bisa jadi akan berkata: “Allah تعالى mengujiku lebih dari kemampuanku.” Maka orang ini hendaknya segera sadar bahwa ucapannya itu berseberangan dengan ayat yang jelas dan gamblang. Allah تعالى berfirman,

لاَ يُكَلِّفُ اللّهُ نَفْسًا إِلاَّ وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ

“Tidaklah Allah membebani suatu jiwa kecuali sesuai kemampuannya, dia akan mendapatkan apa yang ia perbuat dan dia akan menanngung apa yang dia perbuat.” (Al-Baqarah: 186)

Dan yang melebihi diatas kemampuan manusia adalah adzab pada hari kiamat -kita berlindung kepada Allah dari adzab neraka-. Allah تعالى berfirman,

زِدْنَاهُمْ عَذَابًا فَوْقَ الْعَذَابِ بِمَا كَانُواْ يُفْسِدُونَ

“Dan Kami tambahkan bagi mereka adzab di atas adzab dikarenakan mereka berbuat kerusakan.” (An-Nahl: 88)

Tingkatan-tingkatan Ujian

Pertama: Tingkatan Ujian Dan Cobaan

Allah تعالى berfirman,

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ حَتَّى نَعْلَمَ الْمُجَاهِدِينَ مِنكُمْ وَالصَّابِرِينَ وَنَبْلُوَ أَخْبَارَكُمْ

“Dan Kami benar-benar akan menguji kalian sampai Kami tahu benar orang-orang yang bersungguh-sungguh dari kalian serta orang-orang yang bersabar, dan agar Kami menyatakan akan (baik buruknya) keadaan kalian.” (Muhammad: 31)

Maka Allah تعالى menguji kita agar terlihat mana dari kita yang bersabar, yang kuat imannya dan yang benar pernyataan imannya. Allah تعالى juga berfirman,

الم أَحَسِبَ النَّاسُ أَن يُتْرَكُوا أَن يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لا يُفْتَنُونَ وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ

“Alif Lam Mim, Apakah manusia itu menyangka akan dibiarkan begitu saja mengatakan: “Kami beriman” sedang mereka tidak diuji? Sungguh Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka…” (Al-‘Ankabut: 1-3)

Kedua: Tingkatan Pembersihan Dan Pensucian Dari Dosa Dan Kesalahan

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda sebagaimana dalam hadits Al-Bukhary – Muslim,

مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلا وَصَبٍ وَلا هَمٍّ وَلا حُزْنٍ وَلا أَذًى وَلا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلاَّ كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

“Tidaklah menimpa seorang muslim suatu kepayahan, rasa sakit, kecemasan, kesedihan, gangguan, dan kesusahan sampai duri yang menusuknya kecuali Allah akan mengampuni dengan sebab itu kesalahan-kesalahannya.”

Dan dalam hadits yang diriwayatkan Ahmad dan At-Tirmidzy,

يُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ؛ … وَمَا يَزَالُ الْبَلاءُ بِالْعَبْدِ؛ حَتَّى يَمْشِيَ عَلَى ظَهْرِ الأَرْضِ؛ لَيْسَ عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ

“Seseorang diuji sesuai dengan kadar agamanya…. Dan senantiasa ujian itu menimpa seorang hamba sampai dia berjalan di muka bumi dan dia tidak memiliki kesalahan pun.”

Ketiga: Tingkatan Pendekatan Kepada Allah تعالى, Pemuliaan Dan Pengangkatan Derajat.

Datangnya ujian dari Allah تعالى itu menunjukkan kecintaan Allah تعالى padanya dan Allah تعالى menginginkan kebaikan untuknya. Dan jika Allah تعالى telah mencintainya maka kecintaan-Nya akan diikuti kecintaan Jibril. Sebagaimana dalam hadits Al-Bukhary – Muslim dari Abu Hurairah رضي الله عنه,

إِذَا أَحَبَّ اللَّهُ عَبْدًا نَادَى جِبْرِيلَ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ فُلاَنًا فَأَحِبَّهُ فَيُحِبُّهُ جِبْرِيلُ فَيُنَادِي جِبْرِيلُ فِي أَهْلِ السَّمَاءِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ فُلاَنًا فَأَحِبُّوهُ فَيُحِبُّهُ أَهْلُ السَّمَاءِ ثُمَّ يُوضَعُ لَهُ الْقَبُولُ فِي أَهْلِ الأَرْضِ

“Jika Allah mencintai seorang hamba, Dia memanggil Jibril sesungguhnya Allah mencintai si fulan, maka Jibril mencintainya, lalu Jibril berseru pada penduduk langit: “Sesungguhnya Allah mencintai si fulan maka cintailah ia.” Maka penduduk langit mencintainya. Kemudian diberikan baginya penerimaan di muka bumi.”

Dan yang menunjukkan terangkatnya martabat orang yang diuji serta bersabar, adalah orang-orang yang di dunianya sehat / selamat tidak ada gangguan, ketika di akhirat berangan-angan untuk dimasukkan dalam orang yang diuji, sebagaimana dalam hadits At-Tirmdzy dari Jabir رضي الله عنه yang dihasankan oleh Syaikh Al-Albany dalam Shahih Al-Jami’,

يَوَدُّ أَهْلُ الْعَافِيَةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حِينَ يُعْطَى أَهْلُ الْبَلاءِ الثَّوَابَ لَوْ أَنَّ جُلُودَهُمْ كَانَتْ قُرِضَتْ فِي الدُّنْيَا بِالْمَقَارِيضِ

“Orang-orang yang sehat / selamat berharap pada hari kiamat ketika orang-orang yang yang diuji diberikan pahalanya mereka berharap kalau saja kulit-kulit mereka terpotong dengan gunting.”

Lihatlah! Orang ini berangan-angan untuk mendapatkan ujian sehingga dia bisa mendapatkan pahala dan keutamaan yang sangat besar.

Dan dalam hadits At-Tirmidzy dari Anas رضي الله عنه dishahihkan oleh Al-Albany dalam Shahih Al-Jami’,

إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدِهِ الْخَيْرَ عَجَّلَ لَهُ الْعُقُوبَةَ فِي الدُّنْيَا، وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدِهِ الشَّرَّ أَمْسَكَ عَنْهُ بِذَنْبِهِ؛ حَتَّى يُوَافِيَ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Jika Allah menginginkan kebaikan bagi hamba-Nya, maka Allah menyegerakan hukumannya di dunia. Dan jika Allah menginginkan (membalaskan) kejelekan bagi bagi hamba-Nya maka Allah menahannya dengan dosanya sampai dituntaskan pada hari kiamat.”

Bentuk-bentuk Ujian Dan Musibah

Ada dua bentuk dalam hal ini, yaitu:

Pertama: Binasanya Orang-orang Zhalim

Hanya orang zhalim saja yang dibinasakan dan Allah تعالى menyelamatkan orang-orang yang shalih. Allah تعالى berfirman,

فَلَمَّا نَسُواْ مَا ذُكِّرُواْ بِهِ أَنجَيْنَا الَّذِينَ يَنْهَوْنَ عَنِ السُّوءِ وَأَخَذْنَا الَّذِينَ ظَلَمُواْ بِعَذَابٍ بَئِيسٍ بِمَا كَانُواْ يَفْسُقُونَ

“Maka ketika mereka melalaikan apa yang mereka diingatkan dengannya Kami selamatkan orang-orang yang melarang dari kejelekan dan Kami hukum orang-orang yang zhalim dengan adzab yang keras, disebabkan mereka selalu berbuat fasik.” (Al-A’raf: 165)

Kedua: Binasanya Orang-orang Yang Zhalim Dan Orang Shalih

Jika kerusakan umat telah merata, maka Allah تعالى tidak akan segan untuk membinasakan yang zhalimnya dan yang shalihnya. Allah تعالى berfirman,

وَاتَّقُواْ فِتْنَةً لاَّ تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُواْ مِنكُمْ خَآصَّةً وَاعْلَمُواْ أَنَّ اللّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“Dan takutlah akan suatu fitnah (musibah/adzab) yang tidak hanya menimpa pada yang zhalim dari kalian secara khusus. Dan ketahuilah bahwa Allah itu sangat keras adzab-Nya.” (Al-Anfal: 25)

Dan dalam hadits Ummu Habibah رضي الله عنها dalam Al-Bukhary dan Muslim,

لاَ إِلَهَ إِلا اللَّهُ؛ وَيْلٌ لِلْعَرَبِ مِنْ شَرٍّ قَدْ اقْتَرَبَ؛ فُتِحَ الْيَوْمَ مِنْ رَدْمِ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ مِثْلُ هَذِهِ؛ وَحَلَّقَ بِإِصْبَعِهِ الإِبْهَامِ وَالَّتِي تَلِيهَا، قَالَتْ زَيْنَبُ بِنْتُ جَحْشٍ: فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ: أَنَهْلِكُ وَفِينَا الصَّالِحُونَ؟! قَالَ: نَعَمْ؛ إِذَا كَثُرَ الْخَبَثُ

“Tiada sesembahan yang haq kecuali Allah. Kecelakaan bagi arab berupa kejelekan yang telah mendekat. Terbuka dinding Ya’juj dan Ma’juj sebasar ini -beliau melingkarkan ibu jari dan jari telunjuknya-. Zainab bintu Jahsy berkata: “Aku berkata: “Wahai Rasulullah, apakah kami akan dibinasakan sedangkan ada orang-orang shalih di antara kami?” Beliau berkata: “Ya, jika telah banyak kejelekan.”

Sementara ini kami cukupkan pembahasan ini sampai di sini dan insyaallah akan kami sambung pada edisi berikutnya terkait:

  • Manfaat-manfaat ujian dan cobaan.
  • Apa rahasia diturunkannya ujian dan musibah?
  • Perbedaan hukuman secara syari’at dan hukuman secara kauny
  • Kejadian yang ada ini bukan sekedar peristiwa alam
  • Perbedaan antara hukuman / adzab dan ujian
  • Dan pembahasan lainnya semoga kami bisa menyajikannya.

Disadur dari kitab “Al-Ibtila’ Tathhirun wa Ni’matun Min Rabb Al-Ardhi wa As-Sama'” (Ujian itu Pensuci dan Nikmat Dari Rabb Bumi dan Langit).

 

8 responses to this post.

  1. Posted by Aly on 11/11/2010 at 22:18

    nice…

    Balas

  2. Posted by ilyas on 12/11/2010 at 00:02

    al-hamdulillah, ana sharing yach, disampaikan ke komunitas yahoo answers.

    Balas

  3. Ijin sharing juga di fb ana ya !! antum rajin juga menulis, kapan tidurnya? waktu antum padat pastinya.

    Balas

    • Tafadhal silahkan. Semua artikel yang antum pandang baik dan perlu dishare silahkan dishare. Perlu copas jg boleh. Asal sumber disebutkan dan tdk diubah. Barakallah fiik

      Balas

  4. Posted by abulhakam on 06/03/2011 at 13:28

    allah yubarik fik ya akhona al-ustadz ‘umar.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: