Sebab-sebab Perselisihan Yang Tercela Di Tengah-tengah Ahlus Sunnah

بسم الله الرحمن الرحيم

Asy-Syaikh Muhammad bin Abdillah Al-Imam حفظه الله berkata dalam kitab “Al-Ibanah ‘An Kaifiyah At-Ta’amul Ma’a Al-Khilaf Baina Ahlis Sunnah Wal Jama’ah” hal. 55-56:

Sebab-sebab Perselisihan Yang Tercela Di Tengah-tengah Ahlus Sunnah

Termasuk perkara yang penting adalah bahwa ahlus sunnah itu perlu untuk mengetahui sebab-sebab terjadinya perselisihan yang tercela di tengah-tengah mereka, sehingga mudah bagi mereka untuk menyelesaikannya. Dan sebab-sebab ini begitu banyak dan tidak terbatas, akan tetapi saya akan sebutkan sebab yang paling penting dan yang paling banyak kerusakannya, yaitu sebagai berikut:

Pertama: Rusaknya Niat Dan Adanya Kejahilan (Kebodohan), Kezhaliman, Dan Bisikan Syaithan.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah رحمه الله berkata dalam “Iqtidha’ Ash-Shirath Al-Mustaqim” (1/148): “Perselisihan yang tercela antara dua pihak, sebabnya terkadang adalah rusaknya niat. Dikarenakan pada jiwa tersebut ada kezhaliman, hasad, maunya ditinggikan di muka bumi dan yang semisal dengan itu. Sehingga karena hal itu menjadikannya mencela ucapan orang lain atau mencela perbuatannya, atau berusaha mengalahkannya agar dia bisa nampak beda darinya, atau dia (hanya) mencintai ucapan yang sepadan dengannya dalam nasab, atau madzhab, atau negara atau persahabatan. Dan yang semisal dengan itu, dikarenakan ketika ucapannya didengar akan mengahasilkan kemuliaan baginya dan kepemimpinan. Begitu banyak hal ini di antara Bani Adam, dan ini adalah kezhaliman.

Dan terkadang sebabnya itu adalah bodohnya kedua orang yang berselisih akan hakekat perkara yang mereka perselisihkan, atau tidak tahunya dalail yang salah satunya bisa membimbing yang lain dengan hal itu, atau salah satunya tidak tahu kebenaran yang ada pada lawannya terkai dengan hukum dan dalil meskipun dia mengetahui kebenaran yang ada pada dirinya secara hukum dan dalil.

Kebodohan dan kezhaliman keduanya adalah pokok dari setiap kejelekan, sebagaimana firman Allah,

وَحَمَلَهَا الإِنسَانُ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولاً

“Dan manusia memikulnya. Sesungguhnya manusia itu amat zhalim dan amat bodoh.” (Al-Ahzab: 72).”

Orang tua kami Al-‘Allamah Muqbil bin Hadi Al-Wadi’iy رحمه الله berkata dalam tulisan beliau “Nashihaty Li Ahlis Sunnah” yang dicetak bersama kitab beliau “At-Tarjamah” hal. 169: “Nasehatku untuk ahlus sunnah agar mereka menjauhi sebab-sebab perpecahan dan perselisihan. Aqidah ahlus sunnah itu satu, dan tujuan mereka itu satu. Tidak ada di sana sesuatu yang membolehkan perpecahan dan perselisihan kecuali kebodohan, kezhaliman dan syaithan. Diriwayatkan dalam Shahih Muslim:

إِنَّ الشَّيْطَان قَدْ أَيِس أَنْ يَعْبُدهُ الْمُصَلُّونَ فِي جَزِيرَة الْعَرَب ، وَلَكِنْ فِي التَّحْرِيش بَيْنهمْ

“Sesungguhnya syaithan telah putus asa untuk diibadahi oleh orang-orang yang shalat di jazirah arab, akan tetapi (dia berusaha) dalam memecah belah antara mereka.”

Saya berkata: Sebab-sebab yang disebutkan, semua sebab yang ada kembali ke hal itu semua. Dan akibat dari tiga perkara tersebut adalah terjadinya saling bantah dan debat, serta usaha untuk menjatuhkan dari waktu ke waktu.

Kedua: Dangkalnya Pemahaman Dan Jeleknya Tujuan.

Al-‘Allamah Ibnu Al-‘Utsaimin رحمه الله berkata dalam “Syarh Shahih Al-Bukhary” (1/126) dimana beliau mensyarah hadits “إِنَّ الْحَلاَلَ بَيِّن“:

“Sebab-sebab kesamaran itu sangat banyak. Entah tersamar bagi orang awam, entah bagi para penuntut ilmu yang kurang ilmu dan pemahaman mereka, atau mereka memiliki keheranan yang tidak semestinya. Karena sebab-sebab kesamaran itu diantaranya:

  1. Kurangnya ilmu. Dan sesuatu yang diketahui bahwa orang yang menghafal seratus hadits tidak seperti orang yang menghafal seribu hadits. Yang kedua lebih banyak imunya.
  2. Dangkalnya pemahaman. Seperti seseorang menghafal banyak dan dia memiliki ilmu yang banyak akan tetapi dia tidak memiliki pemahaman. Maka ini juga terjadi padanya kesamaran, karena dia tidak memahami dalil sebagaimana mestinya.
  3. Jeleknya tujuan. Dari sisi dia memabawa dalil tersebut sesuai dengan keyakinannya. Dan ini adalah seperti orang yang berbicara tentang Al-Qur’an dengan akalnya, atau tentang As-Sunnah dengan akalnya. Dia ingin untuk mengarahkan dalil sesuai dengan yang dia anut, sehingga engkau dapati dia jika menemukan suatu dalil yang menyelisihi yang dia anut dia memalingkan lehernya. Dan bisa jadi jika dalil itu tidak mengijinkannya untuk memalingkan lehernya maka dalil itu akan mematahkan atau menyembelih leher itu.

Maka ini adalah sebab terjadinya kesamaran. Adapun orang yang diberi Allah تعالى ilmu dan pemahaman, serta niat yang benar, dia menjadikan dalil itu untuk diikuti bukannya mengikuti, berada pada kalbunya, dalam gerak-geriknya dan amalan badannya serta ucapannya mengacu dalil, maka yang seperti ini keumumannya dia mencocoki kebenaran dan kebenaran akan dimudahkan baginya sehingga ia sampai padanya.”

 

One response to this post.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: