Fitnah Timbul Akibat Kesalahan Yang Kerap Timbul Dari Lidah 02

Syaikh Muhammad Al-Hamd hafizhahullah menyebutkan dua kesalahan lidah yang kerap terjadi dalam perbincangan dan majelis:

Mengedepankan Dirinya Untuk Selalu Berbicara

Di sana ada orang yang banyak berbicara dalam perbincangan, akan tetapi dia masih memberi kesempatan bagi yang lain untuk berbicara.

Banyak bicara itu sudah jelek -sebagaimana telah lewat-, dan lebih buruk dari banyak bicara adalah seseorang selalu mengedepankan dirinya untuk selalu berbicara. Maka dia tidak memberikan kesempatan bagi yang lain untuk beramah tamah dengan anak bibirnya.

Sifat selalu mengedepankan diri untuk berbicara itu penyakit yang buruk, banyak orang yang berbicara terlalai dari penyakit ini, dikarenakan persangkaan mereka bahwa diamnya orang yang di depannya adalah karena terpukaunya dengan ucapan mereka, dan setuju dengan mereka untuk memperpanjang pembicaraan.

Maka selayaknya bagi orang yang berbicara untuk menjauhi sifat mengedepankan diri untuk berbicara, dan untuk tidak menganggap yang lain tidak pantas bicara lalu membolehkan dirinya berbicara.[1]

Termasuk dari adab dalam berbicara adalah hendaknya seorang muslim memperingkas dalam bicaranya dalam majelis, menjauhkan dirinya dari tindakan sebagian orang yang tidak malu untuk menjadi pemegang kendali pembicaraan dalam majelis-majelis orang, sehingga mereka memenuhi perasaan manusia dengan gusar karena panjangnya yang mereka bicarakan.[2]

Asy-Syaikh Abdurrahman bin As-Sa’dy رحمه الله berkata: “Hati-hati engkau untuk merintangi manusia dalam majelismu agar engkau menjadi pemimpin bagi mereka padahal engkau bukanlah seorang pemimpin, atau agar engkau menjadi orang yang memaksakan diri banyak bicara yang menonjolkan setiap ucapkan.

Dan terkadang termasuk dari kebodohanmu dan kedunguanmu adalah engkau menguasai majelis dengan duduk dan jadilah engkaulah sang khatib dan pembicara bukan orang lain.

Dan sesungguhnya adab-adab yang syar’i yang dikenal semua orang adalah saling mengemukakan yang lain untuk berbicara. Dan setiap orang yang hadir memiliki bagian untuk bicara. Kecuali anak kecil yang duduk bersama kaum tua, maka mereka harus beradab terhadap orang tua, dan hendaknya mereka tidak bicara kecuali sekedar menjawab pertanyaan orang lain.[3]

Berbicara Tentang Dirinya Dalam Konteks Berbangga Diri.

Sebagian manusia tidak henti-hentinya membicarakan tentang dirinya, maka dia menyebutkan kebaikan dirinya, memuji amalannya sendiri, dan berbangga dengan apa yang muncul darinya berupa keutamaan dan kemapanan.

Dan masuk dalam hal ini bicaranya tentang kekagumannya terhadap ucapannya, karangannya, syairnya, dan semua hal yang khusus dia miliki.

Dan masuk dalam hal ini juga bicaranya tentang kecerdasan anak-anaknya, penyebutan berita-berita mereka, bicaranya tentang istrinya dan pintarnya dia mengatur rumah, dan semisal dengan itu.

Memuji diri itu kebanyakannya termasuk dalam hal membangga-banggakan diri.

Jika memang menemukan kondisi yang menuntut untuk berbicara tentang dirinya dan memujinya -entah dalam rangka memperkenalkan -ta’aruf- dirinya, entah untuk menjelaskan perkara yang samar, entah untuk menolak tuduhan, atau yang selain dari itu dari perkara-perkara yang diijinkan oleh syari’at- maka memuji diri dalam konteks seperti ini boleh, menyanjung dirinya dan berbicara tentang dirinya saat ini bukanlah noda baginya.[4]

Al-Imam An-Nawawy رحمه الله berkata: “Ketahuilah bahwa penyebutan kebaikan diri itu ada dua: yang tercela dan yang disukai (terpuji).

Yang tercela adalah dia menyebutkannya untuk berbangga diri, menunjukkan ketinggiannya, menunjukkan dia beda dari teman-temannya, dan yang semisal denga itu.

Yang disukai (terpuji) adalah jika padanya ada kebaikan secara agama. Hal itu misalnya dia adalah orang yang mengajak pada kebaikan, atau melarang dari yang munkar, atau dia menasehatkan dengan suatu maslahah, atau dia sebagai pengajar, atau sebagai pendidik, atau sebagai penceramah, atau dia berusaha mendamaikan perseteruan dua orang, atau dalam rangka menolak kejelekan terhadap dirinya, atau yang semisal dengan itu. Maka dia menyebutkan kebaikan dirinya dengan meniatkan agar ucapannya lebih diterima dan apa yang dia sebutkan jadi sandaran.

Dan sungguh semakna dengan ini telah datang dalam nash-nash yang tidak terhitung.”[5]

Kemudian beliau رحمه الله menyebutkan contoh-contoh akan hal itu.[6]

Ibnu Al-Muqfi’ رحمه الله berkata: “Dan jika engkau suka untuk dirimu keutamaan, maka jauhilah untuk menyebutkan keutamaan itu atau menampakkannya. Ketahuilah bahwa nampaknya hal itu dalam bentuk disebut-sebutkan dan ditampak-tampakkan akan menempatkanmu dalam kalbu-kalbu manusia lebih banyak berupa aib dibanding berupa keutamaan.

Ketahuilah jika engkau bersabar dan tidak tergesa-gesa akan nampak hal itu darimu dalam bentuk yang indah dan dikenal baik di sisi manusia.

Dan tidaklah tersembunyi bagimu bahwa semangat seseorang untuk menampkkan apa yang dia miliki, dan sedikitnya wibawa dalam hal itu merupakan pintu dari pintu-pintu kebakhilan dan celaan. Dan sebaik-baik obat akan hal itu adalah sifat murah hati dan kedermawanan.

Jika engkau ingin untuk mengenakan pakaian kewibawaan dan keindahan, berhias dengan hiasan kasih sayang di hadapan orang, berjalan di tanah yang rata, yang tiada kelembekan padanya tidak pula licin, maka jadilah engkau seorang ‘alim bertampang seperti bodoh, dan orang yang pandai bicara tapi seperti orang yang tidak mampu bicara.

Adapun ilmu maka akan menghiasimu dan membimbingmu, adapun sedikitnya engkau mengatakan dirimu punya ilmu akan menghilangkan hasad darimu. Adapun kemampuan bicara jika engkau membutuhkannya ia akan membantumu menyampaikan kebutuhanmu, adapun diam akan menghasilkan bagimu kecintaan dan wibawa.”[7]


[1] Lihat Kaifa Tuhawir karya Dr. Thariq Al-Habib hal. 15.

[2] Lihat Khuluq Al-Muslim karya Al-Ghazaly hal. 160.

[3] Ar-Riyadh An-Nadhir tergabung dalam Al-Majmu’ah Al-Kamilah karya Ibnu Sa’dy, kelima hal. 549.

[4] Lihat As-Suluk Al-Ijtima’iy Fii Al-Islam karya Hasan Ayyub hal. 328-429.

[5] Al-Adzkar karya An-Nawawy hal. 246-247.

[6] Lihat Al-Adzkar hal. 247.

[7] Al-Adab Ash-Shaghir wa Al-Adab Al-Kabir karya Ibnu Al-Muqfi’ hal. 135 dengan penjelasan dan pembelajaran Dr. Mufid Qamihah.

5 responses to this post.

  1. Posted by Enha on 14/10/2010 at 05:41

    Bismillah. Bgmn perbedaan antara mencela dgn menasehati? Jazakumullahu khairan ats jwbny.

    Balas

  2. […] Maka selayaknya bagi orang yang berbicara untuk menjauhi sifat mengedepankan diri untuk berbicara, dan untuk tidak menganggap yang lain tidak pantas bicara lalu membolehkan dirinya berbicara.[13] […]

    Balas

  3. Pengemudi Kerap Tertidur Saat Nyetir…

    I found your entry interesting thus I’ve added a Trackback to it on my weblog :)…

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: