Fitnah Timbul Akibat Kesalahan Yang Kerap Timbul Dari Lidah 01

بسم الله الرحمن الرحيم

Lidah memang tidak bertulang, mudah menimbulkan kekacauan tanpa di sadari. Dalam berbicara ataupun dalam bermajelis terkadang tidak sadar lidah kita menimbulkan perkara yang meresahkan. Betapa banyak lidah ini menimbulkan suatu fitnah, betapa banyak lidah ini menjadikan fitnah makin menyala-nyala. Ketika lidah ini tidak dikontrol dengan aturan dan adab syar’i.

Dengan ijin Allah Ta’ala pada kesempatan kali ini kami akan tampilkan nasehat Asy-Syaikh Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd rahimahullah terkait beberapa kesalahan yang kerap terjadi dalam forum pembicaraan dan dalam bermajelis.

Semoga apa yang kami sajikan ini bermanfaat bagi kita dalam memperbaiki diri dan lidah kita, atau lebih meluruskan lidah kita. Walillahi at-taufiq

Dan berikut adalah kesalahan yang pertama:

Ats-Tsartsarah

 

Ats-Tsartsarah artinya banyak bicara tanpa ada manfaat. Adapun makna Ats-Tsartsaar adalah memaksakan diri untuk banyak bicara.

Engkau akan temukan diantara manusia ada orang yang memaksakan diri untuk banyak bicara dengan tidak karuan, dia berbicara pada setiap hal, dan memasuki setiap celah yang sempit.

Jika dia menghadiri suatu majelis dia memenuhinya dengan banyak gaduh dan menyibukkannya dengan ucapan di luar tema pembicaraan.

Maka ats-tsartsarah itu merupakan satu bentuk dari bentuk-bentuk akhlaq yang jelek, dan itu merupakan bukti akan kurangnya akal dan tipisnya agama.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ أَحَبَّكُمْ إِلَيَّ وَأَقْرَبَكُمْ مِنِّي فِي الْآخِرَةِ أَحَاسِنُكُمْ أَخْلاَقًا ، وَإِنَّ أَبْغَضَكُمْ إِلَيَّ وَأَبْعَدَكُمْ مِنِّي فِي الْآخِرَةِ أَسْوَؤُكُمْ أَخْلاَقًا ، الثَّرْثَارُونَ الْمُتَفَيْهِقُونَ الْمُتَشَدِّقُونَ

“Sesungguhnya termasuk orang yang aku cintai diantara kalian dan paling dekat denganku dari kalian di akhirat adalah orang yang paling baik akhlaqnya diantara kalian. Dan sesungguhnya orang yang paling aku benci dari kalian dan paling jauh dariku dari kalian di akhirat adalah yang paling jelek akhlaqnya diantara kalian. Orang-orang yang memaksakan diri banyak bicara, yang memenuhi mulutnya dengan ucapan, yang panjang bicaranya di depan manusia.”[1]

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Tidak ada faedah dalam ucapan tambahan (di luar tema).”[2]

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma mewasiatkan kepada seseorang: “Janganlah engkau bicara sesuatu yang tidak ada kepentingan padanya, sesungguhnya itu hanyalah ucapan tambahan, dan aku tidak merasa aman engkau akan tertimpa dosa, berbicaralah engkau dalam perkara yang engkau ada kepentingannya sampai engkau temukan suatu tempat yang tepat, karena bisa jadi orang yang bicara selain pada tempatnya telah tersengsarakan.”[3]

‘Atha’ rahimahullah berkata: “Mereka membenci ucapan-ucapan tambahan.”[4]

Dan beliau berkata: “Dengan meninggalkan tambahan-tambahan (ucapan) akan sempurnalah akal.”[5]

Dan beliau berkata: “Diam itu penjaga lidah dan penutup kelemahan.”[6]

Asy-Syaf’i rahimahullah berkata:

Tiada kebaikan pada sisipan kata

Jika engkau mendapat petunjuk kepada inti-intinya

Dan diam itu lebih indah bagi seorang pemuda

Dari pada bicara pada waktu yang tidak tepat[7]

Isma’il Al-Katib rahimahullah berkata:

Sebaik ucapan adalah yang sedikit

(Namun) menunjukkan makna yang banyak

Dan kelemahan adalah makna (ucapannya) sedikit

(Namun) terdiri dari lafaz yang panjang[8]

An-Nawawy rahimahullah berkata: “Ketahuilah, bahwasanya hendaknya bagi setiap orang mukallaf untuk menjaga lidahnya dari semua ucapan kecuali ucapan yang nampak ada maslahah padanya. Dan kapan ucapan yang mubah itu sama saja dengan ditinggalkan dalam hal maslahah, sunnahnya adalah ditahan. Karena terkaanag ucapan yang mubah itu mengantarkan pada yang haram atau yang makruh. Dan ini banyak dalam kebiasaan. Dan keselamatan tiada ada  sesuatu yang menyamainya.”[9]

Al-Qasimy rahimahullah berkata: “Jauhilah tambahan-tambahan ucapan, karena ia akan menampakkan aib-aibmu yang tersembunyi, dan memancing musuhmu yang terdiam. Ucapan manusia itu menjelaskan keutamaan dirinya dan menggambarkan aklanya, maka cukupkanlah pada yang indah dan ringkaslah pada yang sedikit.”[10]

Kalau seandainya memilih diam dan meninggalkan ucapan yang tidak penting itu dianggap baik, dituntut dari setiap orang, maka hal itu dari orang yang muncul dari dirinya kebodohan dan banyak ketergelinciran lebih dan lebih dituntut.

Ali bin Abdurrahman bin Hudzail rahimahullah berkata: “Termasuk yang wajib atas orang yang telanjang dari adab, kosong dari pengetahuan dan pemahaman, dan tidak berhias dengan ilmu, hendaknya dia tetap diam dan menahan dirinya dengannya. Maka sesungguhnya hal itu adalah bagian yang besar dari adab, dan bagian yang melimpah dari taufiq. Karena hal itu mengamankan dari kesalahan, dan melindungi dari penyebab jatuh (dala kesalahan). Maka adab itu inti dai setiap hikmah, dan diam kumpulan dari banyak hikmah.”[11]

Seorang penyair berkata:

Dan dalam diam ada penutup bagi kelemahan

Dan sesungguhnya lembaran kalbu seseorang (terlihat) ketika dia berbicara.[12]

 


[1] Diriwayatkan oleh Ahmad 4/193-194, Ibnu Hibban (382), Ibnu Abi Syaibah 8/515, Al-Baghawy dalam Syarhu As-Sunnah (3395) . Semuanya dari hadits Abu Tsa’labah Al-Khusyany t. Dan At-Tirmidzy (2018) dari Jabir t dan dia berkata: “Hadits Hasan Gharib”. Al-Haitsamy berkata dalam Al-Majma’ 8/21: “Perawi Ahmad adalah perawi Ash-Shahih”. Dan dihasankan oleh Al-Albany dalam Ash-Shahihah (791).

[2] Bahjah Al-Majalis wa Anis Al-Majalis karya Ibnu Abdil Barr 1/61.

[3] Al-‘Uzlah karya Al-Khaththaby hal. 134

[4] Bahjah Al-Majalis 1/61

[5] Bahjah Al-Majalis 1/61

[6] Bahjah Al-Majalis 1/61

[7] Diwan Asy-Syafi’i hal. 136 dengan tahqiq Dr. Muhammad Abdul Mun’im Al-Khafajy.

[8] Bahjah Al-Majalis 1/61

[9] Riyadh Ash-Shalihin karya An-Nawawy hal. 391.

[10] Jawami’ Al-Adab Fii Akhlaq Al-Anjab karya Al-Qasimy hal. 6.

[11] ‘Ain Al-Adab wa As-Siyasah wa Zain Al-Hasab wa Ar-Riyasah karya Ali bin Abdurrahman bin Hudzail hal. 128.

[12] ‘Ain Al-Adab wa As-Siyasah wa Zain Al-Hasab wa Ar-Riyasah karya Ali bin Abdurrahman bin Hudzail hal. 128.

5 responses to this post.

  1. Posted by Abu khoiroh on 06/10/2010 at 10:58

    Masya Allah nasehat yang sangat bagus sekali
    ana izin share y..

    Barokallahu fiik

    Balas

  2. […] “Sesungguhnya termasuk orang yang aku cintai diantara kalian dan paling dekat denganku dari kalian di akhirat adalah orang yang paling baik akhlaqnya diantara kalian. Dan sesungguhnya orang yang paling aku benci dari kalian dan paling jauh dariku dari kalian di akhirat adalah yang paling jelek akhlaqnya diantara kalian. Orang-orang yang memaksakan diri banyak bicara, yang memenuhi mulutnya dengan ucapan, yang panjang bicaranya di depan manusia.”[1] […]

    Balas

  3. bismillah. izin repost ya tuisan2 di blog ini di blog ana http://aboeshafiyyah.wordpress.com/

    Balas

  4. […] “Sesungguhnya termasuk orang yang aku cintai diantara kalian dan paling dekat denganku dari kalian di akhirat adalah orang yang paling baik akhlaqnya diantara kalian. Dan sesungguhnya orang yang paling aku benci dari kalian dan paling jauh dariku dari kalian di akhirat adalah yang paling jelek akhlaqnya diantara kalian. Orang-orang yang memaksakan diri banyak bicara, yang memenuhi mulutnya dengan ucapan, yang panjang bicaranya di depan manusia.”[1] […]

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: