12. Tambahan Pembahasan Terkait Jima’

Pembahasan ini diambil dari pelajaran Syaikh Muhammad Al-Imam Kitab Shiyam dari Shahih Muslim.

Orang yang memasuki waktu fajar dan dia dalam keadaan junub.

Maka sebagaimana yang disebutkan An-Nawawy dalam memberikan judul bab dalam Shahih Muslim “Sahnya Puasa Orang Yang Memasuki Waktu Fajar Dan Dia Junub”. Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari ‘Aisyah dan Ummu Salamah radhiyallahu ‘anhuma melalui jalan Abdurrahman bin Harits bahwa keduanya berkata: “Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memasuki waktu fajar dan beliau dalam keadaan junub bukan karena mimpi kemudian beliau puasa.” Maka Abu Hurairah berkata: “Kedua orang itu lebih tahu.”

Orang yang berjima’ di hari pertama dan telah membayar kaffarahnya, lalu berjima’ lagi di hari kedua apakah dia wajib membayar kaffarah lagi?

Jawabannya: Permasalahan ini diperselisihkan oleh ulama, dan yang paling mendekati kebenaran adalah dia wajib membayar kaffarah lagi.

Apakah jima’ menjadi pembatal puasa dipersyaratkan harus keluar mani?

Jawabannya: Tidak dipersyaratkan harus keluar mani, karena jima’ itu sendiri telah menajdi sebab seseorang membayar kaffarah sama saja keluar mani ataupun tidak.

Orang yang berzina di siang bulan Ramadhan maka dia harus membayar kaffarah dan dia berhak mendapatkan dosa zina.

Orang yang mendengar adzan atau mengetahui masuknya fajar sedang dia dalam keadaan berjima’ maka ada dua kondisi:

  1. Jika dia berhenti dan segera mencabut dzakarnya maka jumhur berkata dia tidak wajib membayar kaffarah. Yang lain berpendapat harus mengqadha’ dan memabayar kaaffarah. Yang lain lagi berkata Dia harus membayar kaffarah.
  2. Jika dia tidak berhenti dan menuntaskan jima’nya maka jumhur berpendapat dia harus membayar qadha’ dan kaffarah.

Orang yang berjima’ di siang bulan Ramadhan kemudian hilang akalnya (gila). Apa hukumnya?

Jawabannya: Ada yang berpendapat kaffarah terangkat darinya. Yang lain berpendapat dia tetap membayar kaffarah karena ketika dia berjima’ dia dalam keadaan mengetahui dan sadar.

Orang yang bersetubuh dengan binatang atau dengan sesama lelaki, maka dia wajib membayar kaffarah dan dia berhak mendapatkan dosa karena bersetubuh dengan binatang merupakan dosa besar.

Orang pulang dari safar dan istrinya berada di tempat tidak safar dan tidak puasa, maka dinasehatkan untuk tidak menjima’i istrinya meskipun istrinya sedang tidak puasa. Karena tidak puasanya istri di sini bisa jadi karena sakit dan perbuatannya akan memudharatkan istri. Adapun kalau tidak puasanya istri karena datang bulan atau nifas maka diharamkan menjima’inya.

Terkait penunaian kaffarah puasa dua bulan berturut-turut, meskipun terselingi dengan berbuka karena udzur yang diperhitungan seperti sakit atau safar darurat maka tetap dianggap berurutan, dia bisa melanjutkannya dan tidak perlu mengulangi.

Orang yang berjima’ di siang bulan Ramadhan dan dia tidak tahu hukum?

Maka jika dia mengetahu bahwa hal itu haram meskipun tidak tau wajibnya kaffarah maka dia tetap wajib membayar kaffarah. Akan tetapi jika dia tidak tahu itu haram karena dia ogah-ogahan tidak mau belajar dan cari tahu maka dia wajib membayar kaffarah. Namun jika dia sudah beruasaha belajar dan tetap tidak tahu itu haram maka dia tidak membayar kaffarah.

Jika berjima’ namun tidak tahu kalau fajar telah masuk?

Jika dia telah berusaha memperhatikan waktu maka tidak terbebani sesuatu. Namun jika dia leha-leha tidak memperhatikan waktu maka dia diwajibkan membayar kaffarah.

Demikian secara singkat dari Syaikh Muhammad Al-Imam hafizhahullah. Wallahu a’lam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: