10. Tentang Puasa Wishal

Ucapan penulis: “Dan diharamkan wishal”.

Yang dimaksud dengan wishal adalah menyambung puasa yaitu tidak bberbuka ketika tenggelamnya matahari dan meneruskan puasanya. Dan para ulama berbeda pendapat dalam permaslahan ini. Dan yang benar adalah diperbolehkan wishal sampai waktu sahur saja. Berdasarkan hadits dalam Al-Bukhary dari Abu Sa’id radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallalllahu ‘alaihi wa sallam,

لاَ تُوَاصِلُوا فَأَيُّكُمْ أَرَادَ أَنْ يُوَاصِلَ فَلْيُوَاصِلْ حَتَّى السَّحَرِ

“Janganlah kalian menyambung puasa, siapa di antara kalian ingin menyambung puasa maka baginya menyambung sampai waktu sahur.”

Jika telah sampai waktu sahur maka wajib baginya untuk berbuka.

Berdasarkan ini maka wishal ada dua hukum:

  1. Wishal dari setelah tenggelam matahari. Mka hukumnya boleh (sebagian ulama mengatakan makruh) tetapi tidak disunnahkan. Yang disunnahkan adalah mnyegerakan berbuka ketika tenggelam matahari.
  2. Wishal yang melewati waktu sahur, maka ini hukumnya tidak boleh dan haram. Berdasarkan larangan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan diirwayatkan larangan ini dalam hadits yang lain dari Abu Hurairah, Ibnu ‘Umar, ‘Aisyah dan Abu Sa’id.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: