07. Puasa Batal Karena Jima’

Ucapan penulis: “Dan berhubungan badan (jima’)”.

Dalil yang menunjukkan bahwa hubungan badan membatalkan puasa adalah firman Allah Ta’ala,

أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَآئِكُمْ

“Dihalalkan bagi kalian pada malam hari bulan puasa bercampur dengan istri-istri kalian.” (Al-Baqarah: 187).

Terpahami dari ini bahwa di siang hari tidak boleh mencampuri wanita dengan hubungan badan berdasarkan dalil ini. Dan diriwayatkan dengan shahih dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

يَدَعُ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ وَشَهْوَتَهُ مِنْ أَجْلِي

“Dia meninggalkan makanannya, minumannya dan syahwatnya karena Aku.”

Dan jima’ (hubungan badan) adalah syahwat yang paling besar.

Apakah ada yang lain yang memiliki hukum jima’?

Dimasukkan alam hukum jima’ orang yang mengeluarkan maninya secara sengaja, maka yang benar orang ini batal puasanya berdasarkan keumuman ayat, ini adalah pendapaat kebanyakan ulam. Ayat menyebutkan kata “ar-rafats”, dan kata ini mencakup makna jima’ dan yang semakna dengannya, dan mengeluarkan mani dengan sengaja itu semakna dengan jima’ dan itulah ar-rafats. Ar-Rafats adalah semua makna yang kurang layak penyebutannya yang terjadi antara suami dan istri. Dan dalam hadits disebutkan,

يَدَعُ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ وَشَهْوَتَهُ مِنْ أَجْلِي

“Dia meninggalkan makanannya, minumannya dan syahwatnya karena Aku.”

Tidak diragukan lagi bahwa mengeluarkan mani itu termasuk syahwat diketahui secara adat, secara bahasa dan secara syari’at.

Jika itu tejadi tanpa disengaja, seperti terjadi dikarenakan melihat atau karena lupa bahwa dia di bulan Ramadhan, maka tiada hukuman atasnya. Hal ini berdasarkan hadits,

إِنَّ اللَّهَ تَجَاوَزَ لأُمَّتِي الْخَطَأ وَالنِّسْيَانِ وَمَا اسْتُكْرِهُوا عَلَيْهِ

“Sesungguhnya Allah telah memaafkan bagi umatku kekeliruan, kelupaan dan apa yang dipakasakan atasnya.”

Dan termasuk dalam hal ini adalah wanita yang lemah yang dipaksa oleh suaminya entah untuk berjima’ atau yang lainnya dan dia tidak menginginkannya dan sudah berusaha menolaknya, maka hal ini tidak berdampak padaa puasanya insyaallah, dia tetap meneruskan puasanya dan dosanya serta hukuman kaffarah ditanggung oleh yang memaksanya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: