Menghormati Dan Menghargai Ulama

بسم الله الرحمن الرحيم

Wahai saudaraku sekalian yang saya cintai,

Berikut cuplikan ulasan yang disampaikan Asy-Syaikh Abdurrahman bin Mu’alla Al-Luwaihiq dalam kitabnya “Qawa’id Fii At-Ta’amul Ma’a Al-‘Ulama’ (Kaidah-kaidah Dalam Berinteraksi Bersama Ulama’)”, yang mana kitab ini telah diberi mukaddimah dan dipuji oleh Asy-Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah. Dan salah satu pembahasan yang beliau bawakan adalah pada halaman 81-83:

Menghormati Dan Menghargai Ulama

Beliau berkata:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيَرَنَا ، وَيُوَقِّرْ كَبِيرَنَا ، وَيَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ ، وَيَنْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيَعْرِفُ لِعَالِمِنَا حَقَّهُ

“Bukan dari kami orang yang tidak menyayangi orang yang lebih muda kita dan (orang yang tidak) menghormati orang yang lebih tua kita, (orang yang tidak) memerintahkan kepada yang baik dan (tidak) melarang dari yang munkar serta (tidak) mengetahui hak ulama kita.”

Hadits diriwayatkan oleh Ahmad dan At-Tirmidzy dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, dan haditss ini memiliki beberapa pendukung.

Sesungguhnya menghormati ulama, memuliakan mereka dan menghargai mereka merupakan bagian dari sunnah.

Thawus bin Kaisan rahimahullah berkata: “Merupakan bagian dari sunnah adalah agar memuliakan empat golongan: ‘Alim (ulama), orang yang sudah beruban (orang lebih tua), penguasa dan orang tua (bapak-ibu).”. Disebutkan oleh Al-Baghway dalam “Syarh As-Sunnah” (13/43).

Bahkan memuliakan seorang ulama dikarenakan ilmunya dan karena apa yang dia hafal dari Al-Qur’an merupakan pemuliaan kepada Allah Ta’ala. Dalam hadits dari Abu Musa Al-As’ary radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إِنَّ مِنْ إِجْلاَلِ اللَّهِ إِكْرَامَ ذِى الشَّيْبَةِ الْمُسْلِمِ وَحَامِلِ الْقُرْآنِ غَيْرِ الْغَالِى فِيهِ وَالْجَافِى عَنْهُ وَإِكْرَامَ ذِى السُّلْطَانِ الْمُقْسِطِ

“Sesungguhnya merupakan bagian dari pemulian kepada Allah Ta’ala adalah: Memuliakan orang yang sudah beruban yang muslim, dan para pengemban Al-Qur’an yang tidak berlebih-lebihan padanya dan tidak kaku darinya, serta memuliakan penguasa yang adil.”.

Diriwayatkan oleh Abu Dawud (4843) dihasankan oleh Adz-Dzahaby, An-Nawawy, Ibnu Hajar dan Al-‘Iraqy.

Sungguh pendahulu umat ini telah menghoramti ulama mereka dengan penghormatan yang besar dan mereka beradab terhadap mereka. Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma -bersamaan dengan kemuliannya dan tingginya kedudukannya- telah memegangi tunggangan Zaid bin Tsabit Al-Anshary radhiyallahu ‘anhu dan dia berkata: “Demikianlah kami diperintahkan untuk bersikap terhadap ulama kami dan orang-orang yang lebih tua kami.”.

Diriwayatkan oleh Al-Hakim (3/423) dan yang lainnya Adz-Dzahaby menyepakati keshahihannya.

Dan Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Aku datangi suatu perkara dan aku cari-cari shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sungguh aku datangi seseorang terkait suatu hadits yang sampai kepadaku bahwa dia mendengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka aku mendapatinya sedang tidur siang. Aku bentangkan selendangku didepan pintunya, angin menerpa wajahku sehingga dia keluar. Ketika dia keluar dia berkata: “Wahai anak paman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ada apa denganmu?” Maka aku katakan: “Sampai padaku suatu hadits darimu bahwa engkau menyampaikannya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka aku suka untuk mendengarnya darimu.” Maka dia berkata: “Tidakkah engkau utus orang padaku sehingga aku datang padamu.” Maka akau katakan: “Aku yang lebih diharuskan untuk dataang padamu.”

Diriwayatkan oleh Ibnu Abdil Bar dalam “Al-Jami'” (1/86).

Al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata kepada Khalaf Al-Ahmar: “Tidaklah aku akan duduk kecuali dihadapanmu, kami diperintahkan untuk tawadhu’ terhadap orang yang kami belajar darinya.”

Disebutkan Ibnu Juma’ah dalam “Tadzkirah As-Sami'” (88).

Dan ketika Al-Imam Muslim bin Al-Hajaj rahimahullah datang kepada Al-Imam Al-Bukhary rahimahullah dan dia (Muslim) mencium antara dua matanya dan berkata: “Biarkanlah aku sampai aku mencium kedua kakimu wahai ustadznya para ustadz, pemimpin ahli hadits, dan dokternya hadits akan penyakit-penyakitnya…”.

Diriwayatkan Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah (11/340).

Merupakan kesempurnaan penghormatan salaf terhadap ulama mereka adalah mereka merasa sungkan kepada mereka:

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Aku bertahan selama dua tahun aku ingin bertanya kepada ‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu tentang suatu hadits, tiada sesuatu yang menghalangiku darinya kecuali aku sungkan padanya.”.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abdil Barr dalam “Al-Jami'” (1/112).

Sungguh para ulama telah banyak menyebutkan perkataan tentang tata cara berinteraksi bersama ulama dalam majelisnya, dan tata cara berbicara bersama mereka, yang mana secara luas disebutkan dalam kitab-kitab adab antara guru dan murid. Dan termasuk yang sangat mencakup permasalahan ini adalah yang diriwayatkan dari ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu: “Sesungguhnya merupakan hak seorang ‘alim adalah engkau tidak memberatkannya dengan pertanyaan, dan engkau tidak menekannya untuk menjawab, dan kau tidak mendesaknya jika berlambat-lambat, dan kau tidak menarik bajunya ketika dia bangkit, dan kau tidak menyebarkan rahasianya dan tidak menggunjing seseorang di sisinya. Jika dia sempat tergelincir maka engkau menerima udzurnya. Wajib atasmy untuk menghormatinya dan mnemuliakannya karena Allah Ta’ala selama dia menjaga perintah Allah Ta’ala. Janganlah kau duduk tepat didepannya. Jika dia membutuhkan sesuatu engkau berusaha yang paling dahulu memenuhi kebutuhannya.”.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abdl Bar dalaam “Al-Jami'” (1/129).

Dan beliau radhiyallahu ‘anhu berkata: “Merupakan hak serang ‘alim atas dirimu, jika engkau datang padanya engkau ucapan salam padanya secara khusus lalu pada hadirin secara umum. Engkau duduk di hadapannya (tidak tepat di depannya), jangan engkau tunjuk dengan kedua tanganmu, jangan engkau beri tanda dengan kedipan matamu. Jangan engkau katakan “Fulan berkata menyelisihi ucapanmu”. Jangan kau tarik bajunya, jangan mendesaknya saat bertanya padanya, sesungguhnya ia dalam posisi seperti kurma yang basah yang masih menjatuhkan padamu sesuatu.”.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abdil Barr dalam “Al-Jami'” (1/146).

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: