06. Pembatal Puasa: 01- Makan & Minum

قال المؤلف: ويبطل بالأكل، والشرب، والجماع، والقيء عمداً

ويحرم الوِصال

“Dan batal disebabkan oleh makan, minum, berhubungan badan dan muntah dengan sengaja. Dan diharamkan puasa wishal.”

Ucapan Penulis: “Dan batal disebabkan oleh makan, minum”

Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala,

وَكُلُواْ وَاشْرَبُواْ حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ

“Dan makanlah serta minumlah sampai jelas bagi kalian benang putih dari benang hitam berupa fajar” (Al-Baqarah: 187)

Maka jelaslah ketika dalam keadaan puasa maka tidak makan dan tidak minum. Dan dalam hadits Abu Hurairah yang diriwayatkan Al-Bukhary dan Muslim,

مَنْ نَسِىَ وَهُوَ صَائِمٌ فَأَكَلَ أَوْ شَرِبَ فَلْيُتِمَّ صَوْمَهُ فَإِنَّمَا أَطْعَمَهُ اللَّهُ وَسَقَاهُ

“Barangsiapa lupa dan dia dalam keadaan puasa lalu dia makan dan minum, maka hendaknya dia menyempurnakan puasanya. Sesungguhnya Allah yang memberinya makan dan minum.”

Dan dalam hadits Abu Hurairah juga,

يَدَعُ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ وَشَهْوَتَهُ مِنْ أَجْلِي

“Dia meninggalkan makanannya, minumannya dan syahwatnya karena Aku.”

Maka siapa yang puasa tidak boleh makan, minum ketika puasanya, siapa yang makan dan minum dengan sengaja puasanya batal.

Dikecualikan dari hal itu jika terjadi kekeliruan dalam makan dan minum. Contohnya air masuk ke dalam mulutnya hingga ke kerongkongan ketika sedang berkumur untuk wudhu’, maka hal ini tidak mengapa baginya (karena tidak sengaja). Allah Ta’ala berfirman,

رَبَّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَا إِن نَّسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا

“Wahai Rabb kami janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau keliru (tidak sengaja).” (Al-Baqarah: 286)

Kemudian diriwayatkan dalam Shahih Muslim dari Abu Hurairah bahwa Allah Ta’ala menjawab do’a tersebut dan berfirman,

قَدْ فَعَلْتُ

“Aku telah melakukannya.”

Maksudnya Allah Ta’ala telah memaafkan untuk umat ini.

Dan shahih diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda,

إِنَّ اللَّهَ تَجَاوَزَ لأُمَّتِي الْخَطَأ وَالنِّسْيَانِ وَمَا اسْتُكْرِهُوا عَلَيْهِ

“Sesungguhnya Allah telah memaafkan bagi umatku kekeliruan, kelupaan dan apa yang dipakasakan atasnya.”

Demikian juga orang yang makan atau minum karena lupa, atau dia menyangka bahwa waktu fajar belum masuk atau menyangka bahwa waktu buka puasa suadah masuk, maka tidak mengapa baginya berdasarkan hadits yang telah lewat,

إِنَّ اللَّهَ تَجَاوَزَ لأُمَّتِي الْخَطَأ وَالنِّسْيَانِ وَمَا اسْتُكْرِهُوا عَلَيْهِ

“Sesungguhnya Allah telah memaafkan bagi umatku kekeliruan, kelupaan dan apa yang dipakasakan atasnya.”

Demikian juga orang yang dipaksa untuk makan dan minum maka dia boleh meneruskan puasanya, sebagaimana orang yang diuji dengan pemimpin yang fajir yang menekan orang yang dipimpinnya untuk makan dan minum. Seperti sebagian diktator yang memaksa tentaranya dan bawahannya untuk tidak puasa dan memaksa mereka untuk hal itu. Terkadang mereka memberikan tekanan dengan kekuatan pada mereka, maka orang yang seperti ini mneyempurnakan puasanya meskipun dia telah makan dan minum.

Rusaknya puasa itu disebabkan hal-hal itu jika dilakukan dengan sengaja. Jika bukan atas dasar pilihannya maka tidak mengapa tiada dosa baginya berdasarkan dalil-dalil yang telah lewat.

Dan kami mengingatkan: Setelah kita tahu Allah Ta’ala memaafkan orang yang keliru dan lupa, maka hendaknya kita tidak bemudah-mudahan terjatuh pada sebab-sebab kekeliruan dan lupa. Yang menunjukkan akan hal ini adalah larangan Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam dari berlebih-lebihan dalam berkumur dan istinsyaq (memasukkan air ke hidung ketika wudhu’). Seabagaimana dalam hadits yang diriwayatkan Abu Dawud dari Laqith bin Saburah. Karena hal itu tempat yang di duga besar akan terjadi kekeliruan padanya. Kalau begitu jangan berlebih lebihan berkumur dan istinsyaq ketika wudhu’ dan kamu sedang puasa.

6 responses to this post.

  1. Posted by alBamalanjiy on 27/07/2010 at 16:10

    Bismillah….
    ‘afwan mau nanya antum asalnya … bukan?

    Baarokallohu fiikum….

    Balas

    • wa fiik barakallahu, seperti yang antum duga memang ana dari sana. Tolong perkenalkan diri antum. Semoga yang kami sajikan bermanfaat.

      Balas

      • Posted by alBamalanjiy on 03/08/2010 at 09:16

        perkenalkan ana abu muhammad al-bamalanjiy.
        ana pernah denger dari dzulqornain(agung pemalang), dulu 1 SMA.

      • Ahyakallah semoga yang kami sajikan bermanfaat. Kami do’akan supaya ant diberi semangat dan istiqamah di atas al-haq

  2. Posted by Hamdan on 10/02/2011 at 08:00

    Saya sahur pada jam setengah tiga dinihari di kantin pabrik pada haru ini(10 februari 2011) untuk menjalankan puasa sunah senin&kamis. Pagi harinya ketika sedang menunggu absen untuk pulang,saya melihat teman2 krja pada memetik buah jambu.Saya jadi pengen nimbrung ikutan makan buah jambu tsb. Saya benar2 lupa kalau saya sedang puasa. Buru2 saya muntahkan jambu yg masih ada di mulut saya. Saya berharap Allah memaafkan saya,agar saya dapat nelanjutkan puasanya.^_^

    Balas

    • Jika memang antum memakan buah jambu tersebut karena lupa, maka tidak mengapa dan tidak batal puasanya. Asalkan setelah ingat langsung menahannya. Silahkan simak pembahasan yang terkait dengan hal itu kembali.
      Barakallahu fiik.

      Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: