Kebenaran Di Sisi Ahlus Sunnah Lebih Mereka Cintai

بسم الله الرحمن الرحيم

Kebenaran Di Sisi Ahlus Sunnah Lebih Mereka Cintai Sampaipun Dibanding Ulama Mereka

Asy-Syaikh Muhammad Al-Imam hafizhahullah berkata dalam kitab “Al-Ibanah ‘An Kaifiyah At-Ta’amul Ma’a Al-Khilaf Baina Ahlis Sunnah Wa Al-Jama’ah” hal. 27:

Tidak tersembunyi lagi bahwa kebenaran itu lebih pantas untuk diikuti, dan lebih berhak untuk dikedepankan atas yang lainnya. Allah Ta’ala berfirman mengajak bicara kaum mukminin,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mendahulukan di depan Allah dan Rasul-Nya. Dan betakwalah sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Tahu.” (Al-Hujurat: 1)

Sungguh Allah Ta’ala telah memberikan taufiq kepada orang yang secara kuat mengikuti manhaj nubuwah untuk menerima kebenaran yang mendukung mereka ataupun mengecam mereka, mengedepankan kebenaran dibanding pemikiran orang seberapapun besarnya mereka, dibanding akal-akal manusia seberapapun cerdiknya mereka. Kebenaran itu mengungguli bukan diungguli. Orang yang paling dikenal selalu mengedepankan kebenaran dibanding selainnya setelah para nabi dan rasul shallallahu ‘alaihim wa sallam adalah para salaf rahimahumullah. Dalil yang paling jelas akan hal ini adalah bahwa mereka tidak mengadakan bid’ah dalam islam, dan mereka tidak berpngku tangan dari menolong islam, bahkan mereka mengorbankan jiwa, harta dan umur untuk menyebarkannya dan membelanya.

Wasiat-wasiat para ulama dalam pengedepanan mereka terhadap al-haq dibanding yang lainnya siapapun itu sangatlah banyak. Syaikhul Islam ibnu Taimiyah rahimahullah berkata sebagaimana dalam “Majmu’ Al-Fatawa” (28/15): “Tidak pantas bagi seorang guru untuk mengelompokkan manusia dan melakukan perkara yang menyebabkan permusuhan dan kebencian, bahkan hendaknya mereka menjadi seperti persaudaraan yang saling tolong menolong dalam kebaikan dan ketakwaan… Jika terjadi perselisihan dan percek-cokan antara guru dengan guru, antara murid dengan murid, antara guru dengan murid, tidak boleh bagi seseorang untuk membantu salah satunya sampai dia mengetahui yang benar. Maka dia tidak menolongnya dengan kebodohan tidak pula dengan hawa nafsu, namun dia harus melihat perkaranya, jika jelas baginya yang benar maka dia menolong orang yang benar dari yang salah. Entah orang yang benar itu temannya atau teman orang lain, entah orang yang salah itu temannya atau teman orang lain. Yang jadi maksud adalah ibadah kepada Allah Ta’ala semata dan ketaatan kepada Rasul-Nya, mengikuti kebenaran dan menegakkan keadilan.”.

Dan beliau juga berkat dalam kitab yang sama (20/164): “Tidak pantas bagi seseorang untuk memasang bagi umat suatu individu yang menyeru kepada jalannya dan dia berloyalitas serta memusuhi di atasnya selain Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam.Tidak pula memasang bagi mereka suatu ucapan yang dia berloyalitas dan memusuhi di atasnya selain ucapan Allah Ta’ala dan Rasul-Nya dan apa yang umat sepakat di atasnya. Bahkan ini merupakan perbuatan ahlul bid’ah yang memasang bagi mereka individu atau ucapan yang dengannya mereka memecah belah umat, berloyalitas dan memusuhi di atas ucapan tadi atau penyandaran itu.”.

Dan beliau juga berkata dalam kitab yaang sama (11/512): “Setiap orang yang memberi faedah kepada orang lain dengan faedaah diiniyah dia adalah gurunya dalam hal itu. Setiap orang mati yang ucapannya, amalannya dan peninggalannya yang diambil manfaatnya dalam agamanya sampai kepada manusia, maka dia adalah gurunya dari sisi ini. Maka para salaf dari umat ini adalah para guru dari pengganti setelahnya, dari kurun ke kurun. Tidak pantas bagi seseorang untuk menisbahkan diri pada seorang guru yang dia berloyalitas di atas pengikutannya dan memusuhi di atas hal itu.”.

Adz-Dzahaby berkata dalam “Al-Mizan” (1/513) setelah menyebutkan apaa yang dikatakan tentang gurunya pembaca penduduk Syam Abu ‘Ali Al-Ahwazy berupa jarh (kritikan): “Seandainya aku mau memihak dan mengkhususkan seseorang niscaya aku telah memihak dan mengkhususkan Abu ‘Ali, dikarenakan tempat tingginya riwayatku dalam qira’ah darinya.”.

Al-‘Allamah Ibnul Qayyim rahimahullah berkata dalaam “Madarij As-Salikin” (2/37) ketika menyanggah Al-Harawy penulis “Manazil As-Sa’irin”: Syaikhul Islam begitu kami cintai, dan al-haq lebih kami cintai dibanding dia. Setiap orang selain Al-Ma’shum shallallahu ‘alaihi wa sallam, diambil ucapannya dan ditinggalkan ucapannya.”.

Dan beliau juga berkata dalam “Badai’ Al-Fawa’id” (2/649) ketika beliau berbicara tentang ahlul ilmi dan iman: “Maka mereka adalah pemutus perkara di antara pemilik ucapan, dan pembeda akan apa yang ada padanya berupa kebenaran dan syubhat. Mereka membatah setiap pengucap kebathilan, dan mereka menyepakatinya pada kebenaran yang ada padanya. Mereka, dalam kebenaran menerimanya dan dalam kebathilan memeranginya, tidak menyimpang bersama suatu kelompok dari suatu kelompok, dan mereka tidak menolak haknya dikarenakan apa yang diucapkannya berupa kebathilan selainnya, bahkan mereka menuaikan firman Allah Ta’ala,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُونُواْ قَوَّامِينَ لِلّهِ شُهَدَاء بِالْقِسْطِ وَلاَ يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلاَّ تَعْدِلُواْ اعْدِلُواْ هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى وَاتَّقُواْ اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Hai orang-orang yang beriman henaknya kalian menjadi orang yang menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencian kalian terhadap suatu kaum mendorong kalian untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan.” (Al-Ma’idah: 8)

Ketika al-haq itu dicintai oleh setiap sunny, akan mudah bagi mereka untuk kembali kepadanya, mereka bergembira dengan hal itu dan bersyukur kepada orang yang menunjukinya akan kesalahannya. Al-Imam Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab An-Najdy berkata dalam “Fiqh Al-I’tilaf” (107): “Dan aku mempersaksikan kepada Allah Ta’ala dan malaikat-Nya dan aku mempersaksikan kepada kalian di atas agama Allah Ta’ala dan Rasul-Nya bahwa aku mengikuti para ulama. Kebenaran yang tersebunyi dariku dan aku salah padanya maka jelaskanlah padaku. Dan aku mempersaksikan kepada Allah bahwa aku menerima(nya) dengan mata dan kepala. Dan kembali kepada al-haq itu lebih baik dari bersikeras dalam kebathilan.”.

Diterjemahkan oleh

‘Umar Al-Indunisy

Darul Hadits – Ma’bar, Yaman

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: