Teguh Di Atas Dakwah Al-Haq 05

Kemudian Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلا تَجَسَّسُوا وَلا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ

“Wahai orangt-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa. Dan janganlah kalian mencari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kalian menggunjing sebagian yang lain, apakah salah seorang dari kalian suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kalian tidak menyukainya. Dan bertakwalah kepada Allah sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” Al-Hujurat: 12)

Jauhilah kebanyakan dari prasangka agar engkau selamat dari yang sedikit. “Jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa”, wajib atasmu untuk berbaik sangka terhadap saudaramu muslim. Barang siapa pantas untuk kita baik sangka padanya maka kita harus baik sangka padanya. Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,

إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيثِ

“Jauhilah oleh kalian prasangka, sesungguhnya prasangka itu sedusta-dusta ucapan.”

Semua ini demi untuk menjaga kehormatan seorang muslim.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: “Dan janganlah kalian mencari kesalahan orang lain”. Yang demikian ini adalah perangai yang jelek dan tercela. Mencari-cari kesalahan orang adalah haram dan merupakan dosa besar. Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,

مَنْ تَسَمَّعَ حَدِيثَ قَوْمٍ ، وَهُمْ لَهُ كَارِهُونَ ، صُبَّ فِي أُذُنَيْهِ الْآنُكُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Barang siapa mencuri-curi dengar pembicaraan suatu kaum sedangkan mereka tidak suka (didengar) akan dituangkan pada kedua telinganya timah panas pada hari kiamat.”

Tidak boleh memata-matai, mencari-cari kesalahan saudaramu muslim. Dan lebih tidak boleh lagi engkau mencari-cari aib seseorang. Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,

يَا مَعْشَرَ مَنْ آمَنَ بِلِسَانِهِ وَلَمْ يَدْخُلِ الإِيمَانُ فِى قَلْبِهِ لاَ تَغْتَابُوا الْمُسْلِمِينَ وَلاَ تَتَّبِعُوا عَوْرَاتِهِمْ فَإِنَّ مَنْ تَبِعَ عَوْرَةَ أَخِيهِ الْمُسْلِمِ اتَّبَعَ اللَّهُ عَوْرَتَهُ وَفَضَحَهُ وَهُوَ فِى بَيْتِهِ

“Wahai sekalian yang aberiman dengan lisannya, sementar iman belum masuk ke dalam kalbunya. Janganlah kalian menggunjing kaumuslimin, jangan pula mencari-cari aurat mereka (aib mereka). Maka sesungguhnya siapa yang mencari-cari aib saudaranya yang muslim Allah ‘Azza wa Jalla akan mencari-cari aibnya dan akan membongkarnya sedang dia berada di rumahnya.”

Maka yang demikian ini tidak boleh engkau menghancurkan kehoramatan seseorang, mencari-cari kesalahan dan aib. Janganlh engkau menyakiti kaum muslimin. Siapa yang bisa dipastikan selamat dari kekeliruan dan ketergelinciran?

Dan perkara yang lebih besar dari ini adalah mencari-cari kesalahan para ulama yang mana mereka adalah orang yang tersaring dari sekian orang dalam suatu masyarakat. Ulama adalah pemimpin para wali, ulama adalah orang yang kecintaan, penghormatan kita kepda merek merupakan kecintaan kita kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan RasulNya -shallallahu ‘alaihi wa sallam- serta agamaNya. Bukankah Allah ‘Azza wa Jalla telah berfiraman,

وَمَن يُعَظِّمْ حُرُمَاتِ اللَّهِ فَهُوَ خَيْرٌ لَّهُ عِندَ رَبِّهِ

“Dan barangsiapa mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah ‘Azza wa Jalla maka itu lebih baik di sisi Rabbnya.” (Al-Haj: 30)

Bukankah Allah ‘Azza wa Jalla telah berfirman,

وَمَن يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِن تَقْوَى الْقُلُوبِ

“Dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah ‘Azza wa Jalla, maka sesungguhnya itu timbul dari ketaqwaan kalbu.” (Al-Haj: 32)

Lalu bagaimana mereka yang mencari-cari kesalahan? Siapa yang dipastikan selamat dari kesalahan? Bukankah perbuatan ini menyebabkan keragu-raguan dalam diri kaum muslimin terhadap ulama mereka, menjatuhkan kepercayaan umat terhadap ulama mereka dan menggambarkan kepada umat agar menjauhi dan tidak percaya kepada ulama mereka? Bagaimana kita akan berjalan tanpa ada bimbingan, tanpa ada yang membimbing dan tanpa ulama? Celaan kepada ulama itu bukanlah celaan kepada pribadi mereka bahkan itu merupakan celaan terhadap agama dan apa yang mereka bawa berupa al-haq dan petunjuk. Dan umat ini dalam keadaaan sangat butuh terhadap ulama yang mengaplikasikan ilmunya, ulama yang ikhlas dakam ilmu da amalnya, ulama yang bisa membawa umat kepada hidayah. Tanpa ulama akan timbul penyimpangan dan kesesatan, Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,

إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنْ الْعِبَادِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالًا فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا

“Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla tidak akan serta merta mencabut ilmu dari para hamba, akan tetapi Allah ‘Azza wa Jalla mencabut ilmu dengan mewafatkan ulama, sampai ketika tidak tertinggal seorang ulama pun manusia mengangkat pemimpin-pemimpin yang bodoh. Maka merea ditanya lalu mereka berfatwa tanpa ilmu. Sehingga sesatlah mereka dan menyesatkan.”

Wajib atas kita untuk berhati-hati dari bisikan musuh dari kalangan Yahudi dan Nashara. Demi Allah ‘Azza wa Jalla, ahlul bathil ssangant ingin agar kaum muslimin hidup tanpa adanya pembimbing, agar kaum muslimin berjalan mengekor setiap apa yang berhembus. Mereka melakuakan ini demi meloloskan rencana mereka merayak ke rumah-rumah kaum muslimin dan menyebarkan pemikirang mereka dan kebatihilan mereka. Maka mereka tidak akan bisa melakukan ini kalau ulama masih ada. Bergeraklah mereka dengan menguasai sekelmpok dari kaum muslimin lalu diajak mencela para ulama di tengah-tengah kaum muslimin sehingga umat kehilngan kepercayaan terhadap ulamanya.

Hati-hatilah dari seruan untuk berlepas dari  ahlus sunnah, berlepas dari ulama sunnah. Kita memiliki pengalaman tentang diri Abul Hasan Al-Ma’riby. Lihatlah dia, bagaimana dia menjauhkan umat dari ulama, dia dan pengikutnya memisahkan umat dari ulamanya. Dia memerangi Asy-Syaikh Rabi’, memerangi Asy-Syaikh ‘Ubaid Al-Jabiry, memerangi Masyayikh Yaman dan memerangi banyak ulama. Kemudian dia menjadi sendirian, menjadi orang yang aneh dan menjadi orang yang terbuang.

Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,

لا تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي ظَاهِرِينَ عَلَى الْحَقِّ

“Akan senantiasa ada sekelompok orang dari umatku  yang nampak di atas al-haq.”

Allah ‘Azza wa Jalla mendatangkan bagi umat ini dn bagi dakwah ini ulma yang beramal dengan ilmunya, membawa umat ke dalam hidayah, ahlu zuhd, ahlu wara’, yang memiliki sikap hati-hati dan hikmah, mampu mebedakan mana maslahat dan mana mafsadat, mana yang bermanfaat dan mana yang merugikan, menggandeng umat kepada kebaikan dan kepada ilmu.

Hindari sikap menjauh dari ulama, hindari perbuatan mencela ulama dan menciptakan keragu-raguan pada umat terhadap ulama. Karena perbuatan yang seperti ini adalah dakwah yang akan merugi dan gagal, dakwah yang berumur pendek dan buahnya dalam waktu dekat akan nampak seperti apa hasilnya. Maka jauhilah yang seperti itu.

Maka kami mangajak diri kami dan saudaraku semuanya –hafizhahumullah-  untuk selalu berada di atas al-haq yang mana Allah ‘Azza wa Jalla telah memberikan taufiqnya untuk kita berada di atasnya. Apa yang datang kepada mereka berupa pemikiran, keyakinan, madzahab, atau hizbiyah, atau jam’iyah maka hendaknya ditolak. Lalu istiqamah di atas apa yang telah mereka kenal dari dakwah ahlus sunnah wal jama’ah. Ini adalah dakwah yang barakah yang tidak ada perselisihan padanya. Sama saja orang Yaman, atau orang Syam, atau orang Najd, atau orang Hijaz atau orang Amerika atau Eropa ataupun India, siapa yang istiqamah di atas Al-Qur’an dan As-Sunnah maka dia adalah Ahlus Sunnah.

Ahlus Sunnah tidak memiliki pendaftaran dan tidak pula memiliki daftar hadir yang mencatat siap yang bergabung dengan dakwah ini. Bahkan Ahlus Sunnah menyeru semua orang untuk berpegang teguh pada Al-Qur’an dan As-Sunnah dan berkumpul  disekitar ulama umat. Maka kami mengajak hadirin semuanya untuk senantiasa berada pada jalan al-haq ini dan kokoh di atasnya sampai menemui ajal kita.

Kita memohon kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar mengantarkan kita kepda ridhaNya dan mengkokohkan kita di atas agamaNya, di atas sunnah NabiNya, serta mengambil nyawa kita dalam keadaan Allah ‘Azza wa Jalla ridha kepada kita. Segala puji bagi Allah ‘Azza wa Jalla Rabb sekalian alam.

 

وصلى الله وسلام على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين

 

2 responses to this post.

  1. Posted by أم سليم on 23/09/2010 at 03:12

    جزاك الله خيرا

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: