Teguh Di Atas Dakwah Al-Haq 04

Jika diseru untuk berhukum kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah dan ditemukan satu pihak berkata “Kami mendengar dan taat”, lalu yang lain mengatakan: “Kami enggan, kami tidak mau dan tidak menginginkan ini, kami menunggu apa yang dikatakan fulan atau ‘alan atau syaikh qabilah atau kami kembali kepada pemimpin keluarga atau fulan dan ‘alan”, maka Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: “Maka jika salah satu dari kedua golongan itu berbuat aniaya kepada yang laian maka perangilah yang berbuat aniaya sampai dia kembali kepada perintah Allah ‘Azza wa Jalla.” Maka semuanya ahrus ekmbali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah, dan berhukum dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah dalam urusan pertikaian dan perselisiahan.

Bukankah Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلاً

“Maka jika kalian berselisih pada sesuatu maka kembalikanlah kepada Allah dan RasulNya jika kalian beriman kepada Allah dan hari akhir. Yang demikian itu lebih utama dan lebih baik akibatnya.” (An-Nisa’: 59)

“Maka jika kalian berselisih pada sesuatu”. Kata “sesuatu” (para ulama mengatakan) nakirah dalam konteks syarat maka bermakna umum mencakup apa saja artinya “segala sesuatu apapun itu”.

“Maka jika kalian berselisih pada sesuatu maka kembalikanlah kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan RasulNya -shallallahu ‘alaihi wa sallam-“. Hal ini dengan syarat ” jika kalian beriman kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan hari akhir”. Barangsiapa berhukum dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah maka itu menjadi tanda akan iman orang tersebut, tanda akan kejujurannya (jika kalian beriman kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan hari akhir). Kalau demikian, -Maha suci Allah ‘Azza wa Jalla- akan selesai semua fitnah, akan hilang permusuhan dan kebencian. Maka yang demikian itu adalah lebih utama dan lebih baik akibatnya. Dan Allah ‘Azza wa Jalla berfurman,

وَمَا اخْتَلَفْتُمْ فِيهِ مِن شَيْءٍ فَحُكْمُهُ إِلَى اللَّهِ

“Dan apa yang kalian berselisih padanya dari sesuatu maka hukumnya kembali kepada Allah.” (Asy-Syura: 10)

Kita kembali kepada ayat,

وَمَا اخْتَلَفْتُمْ فِيهِ مِن شَيْءٍ فَحُكْمُهُ إِلَى اللَّهِ ذَلِكُمُ اللَّهُ رَبِّي عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ

“Maka jika salah satu dari kedua golongan itu berbuat aniaya kepada yang laian maka perangilah yang berbuat aniaya sampai dia kembali kepada perintah Allah ‘Azza wa Jalla. Jika golongan tersebut telah kembali maka damaikanlah antara keduanya dengan adil. Dan berlaku adillah sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat adil.” (Al-Hujurat: 9)

Akan tetapi perdamaian dilakukan dengan adil.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu bersaudara, maka damaikanlah antara kedua saudara kalian. Dan bertaqwalaha kalian kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar kalian mendapatkan rahmat.” (Al-Hujurat: 10)

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu bersaudara”. Jika mereka adalah bersaudara maka tidak boleh untuk berpecah belah dan tidak boleh pula untuk berselisih. Merupakan sunnah yang ditaqdirkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla adalah terjadinya perbedaan, demeikian mereka kaum mukiminin senantiasa berselisih kecuali orang-orang yang dirahmati Allah ‘Azza wa Jalla. Akan tetapi merupakan sesuatu kesalahan jika orang yang satu manhaj, satu dakwah itu berselisih lalu berpecah-belah dan tidak mau bersatu, maka ini adalah kesalahan.

Bukankah di dalam kitab Rabb kita ada pemecahan yang bisa mengurai permaslahan kita, bukankah dalam sunnah Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- kita ada pemecahan yang bisa mengurai masalah kita? Wajib atas kita untuk perhatian akan perkara ini, “sesungguhny orang-orang yang beriman itu bersaudara”.

Inilah yang hendaknya dilakukan oleh semua orang, untuk tawadhu’ satu sama lain, menghoramati satu sama lain, dan mencintai satu sama lain. Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,

لا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

“Tidak (sempurna) keimanan salah seorang dari kalian sampai dia mencintai untuk saudarnya apa yang dia cintai untuk dirinya.”

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman terkait dengan kaum mukminin,

أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ

“Yang bersikap lemah-lembut terhadap orang-orang yang beriman, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir.” (Al-Ma’idah: 54)

Adapun terhadap orang kafir dan terhadap musuh islam dari kalangan Yahudi dan Nashara, terhadap ahlul bida’, terhadap ahlul bathil maka engkau dapati kaum mukminin itu bersikap keras dan tegas terhadap mereka. Adapun terhdap sesama kaujm mukminin maka engkau dapati mereka salang menyayangi, mengkasihi, saling tawadhu’ dan lemah-lembut. Inilah dakawah Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللَّهِ لِنتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لاَنفَضُّواْ مِنْ حَوْلِكَ

“Maka disebabkan rahmat dari Allah kalmu berlemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” (Ali-‘Imran: 159)

Dan Allah ‘Azza wa Jalla berfirman mensifati Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-Nya,

لَقَدْ جَاءكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُم بِالْمُؤْمِنِينَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ

“Sungguh telah datang kepada seorang Rasul dari dari kaum kalian sendiri, berat terasa olehnya penderitaan kalian, sangat menginginkan (keselamatan) bagi kalian, sangat belas nkasihan lagi sayang terhadap orang-orang yang beriman.” (At-Taubah: 128)

Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,

مَا كَانَ الرِّفْقُ فِي شَيْءٍ قَطُّ إِلاَّ زَانَهُ وَلاَ عُزِلَ عَنْ شَيْءٍ إِلاَّ شَانَهُ

“Tidaklah sikap lemah lembut itu ada pada sesuatu kecuali akn menghiasinya, dan tidaklah sikap tersebut dicabut dari sesuatu kecuali akan menjadikannya jelek.”

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman tentang para shahabat,

مُّحَمَّدٌ رَّسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاء عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاء بَيْنَهُمْ

“Muhammad itu adalah utusan Allah, dan orang-orang yang bersama dengannya adalah keras terhadap orang-orang kafir tetapi salaing kasih sayang sesama mereka.” (Al-Fath: 29)

“Saling kasih sayang sesama mereka”. Mka harus ada –wahai hamba Allah ‘Azza wa Jalla – yang namanya kasih sayang, harus ada yang namanya bersaudara, ukhuwah dan tawadhu’ sesama kita, maka yang seperti ini merupakan sekuat-kuat ikatan keimanan.

Kecintaan karena Allah ‘Azza wa Jalla dan kebencian karena Allah ‘Azza wa Jalla terwujud dengan kita bersikap tawadhu’ terhadap saudara-saudar kita, dengan lemah lembut sesasma kita. Dan jauhilah sikap keras dan kasar serta kaku, karena semua ini hanya akan membuahkan kebuasan, fitnah dan macam-macam permaslahan.

Kemudian Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا يَسْخَرْ قَومٌ مِّن قَوْمٍ عَسَى أَن يَكُونُوا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلا نِسَاء مِّن نِّسَاء عَسَى أَن يَكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّ وَلا تَلْمِزُوا أَنفُسَكُمْ وَلا تَنَابَزُوا بِالأَلْقَابِ بِئْسَ الاِسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الإِيمَانِ وَمَن لَّمْ يَتُبْ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, bisa jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari yang mengolok-olok. Dan janganlah pula wanita mengolok-olok wanita yang lain karena bisa jadi yang wanita diolok-olok lebih baik dari yang wanita mngolok-olok. Dan janganlah kalian mecela diri-diri kalian sendiri, dan jangan engkau panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Sejelek-jelek panggiln adalah kefasikan setelah keimanan. Barang siapa tidak bertaubat maka mereka itulah orang-orang yang zhalim.” (Al-Hujurat: 11)

Lihatlah –wahai hamba Allah ‘Azza wa Jalla- kepada ayat ini, dari awalnya sampai akhirnya terdapat dorongan untuk menempuh semua perkara yang menyatukn kalbu, yang menyatukan kalimat, yang menghilangkan efek-efek perselisihan, efek perpecahan dan perbedaan yang diabaikan kebanyakan kaum muslimin.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman mendidik kita dan mendorong kita untuk beradab,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا يَسْخَرْ قَومٌ مِّن قَوْمٍ عَسَى أَن يَكُونُوا خَيْرًا مِّنْهُمْ

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, bisa jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari yang mengolok-olok.” (Al-Hujurat: 11)

Janganlah engkau mengolok-olok saudaramu sesama muslim. Yang engkau hina ini bisa jadi lebih baik darimu, lebih tinggi derajatnya darimu dan lebih mulia di sisi Allah ‘Azza wa Jalla dari padamu.

وَلا تَلْمِزُوا أَنفُسَكُمْ

“Dan janganlah kalian mecela diri-diri kalian sendiri.” (Al-Hujurat: 11)

Jauhilah sikap meremehkan orang, dengan mengatakan fulan jahil, fulan bakhil, fulan demikian dan demikian. Jauhilah sikap yang demikian dan jauhilah perbuatan memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Jauhilah semua perkara yang menyebabkan sesaknya dada, yang menyebabkan perpecahan dan kebencian.

Janganlah memanggil dengan gelar-gelar yang buruk, yaitu dengan panggilan yang mana saudarmu itu benci dipanggil dengan nama itu. “Jangan engkau panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Sejelek-jelek panggialn adalah kefasikan setelah keimanan”.

Mencela, menghina dan mengejek dengan gelar-gela maka semua ini merupakan kefasikan yang hendaknya setiap muslim untuk menjauhinya.

Teguh Di Atas Dakwah Al-Haq 05

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: