Teguh Di Atas Dakwah Al-Haq 03

Wajib atas kita –wahai hamba Allah ‘Azza wa Jalla- untuk menjauh dari perbuatan memperalat al-haq untuk berbuat zhalim sesame kita, untuk memecah belah ukhuwah kita, untuk mecabik-cabik barisan kita. Bahkan al-haq mengajak kita untuk bersatu, al-haq mengajak kita untuk untuk berkumpul, al-haq mengajak kita untuk mengambil al-haq dari siapapun datangnya. Engkau mengambil al-haq dari yang membawanya meskipun dia engkau benci ataupun jauh darimu, maka engkau tetap ambil darinya. Dan jika ada yang membawa kebatilan meskipun itu dekat denganmu meskipun dia itu temanmuyang kau sayangi maka engakau menolaknya.

Dakwah ahlus sunnah ini tidaklah fanatik terhadap seseorang, karena tidak ada seorangppun setelah Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- kecuali dia mengilmui sesuatu dan juga jahil akan sesuatu, terkadang benar dan terkadang keliru.

وَمَا يَنطِقُ عَنِ الْهَوَى * إِنْ هُوَ إِلاَّ وَحْيٌ يُوحَى

“Tidaklah dia berbicara dari hawa nafsunya, tidak lain hal itu hanyalah wahyu yang diwahyukan (padanya).” (An-Najm: 3-4)

Hal ini pada diri Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, adapun orang yang datang setelah beliau dari kalangan shahabat ataupun tabi’in ataupun setelah mereka maka mereka terkadang jatuh pada kesalahan.

Hati-hatilah –wahai hamba Allah ‘Azza wa Jalla- dari menolak al-haq lalu engkau ta’ashub dan fanatik terhadap seseorang, jangan sampai engkau tidak mengetahui al-haq kecuali dengan patokan pribadi seseorang. Bahkan yang wajib adalah kita mengukur seseorang dengan kebenaran bukannya mengukur kebenaran dengan seseorang.

Inilah dakwah ahlus sunnah wal jama’ah, padanya seruan untuk menyatukan kalimat, seruan untuk menjadi seperti jasad yang satu, seperti satu bangunan. Bukankah Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,

تَرَى المُؤْمِنِينَ فِي تَرَاحُمِهِمْ، وَتَوادِّهِمْ، وَتَعَاطُفِهِمْ، كَمَثَلِ الْجَسَدِ. إِذَا اشْتَكَى عضْوًا، تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ جَسَدِهِ بِالسَّهَرِ والحُمَّى

“Engkau melihat kaum mukiminin dalam kasih saying mereka, dan cinta kasih mereka, dan persahabatan mereka seperti jasad yang satu. Jika dia mengeluhkan suatu bagian maka bagian yang lain dari jasadnya akan terpanggil untuk begadang dan menderita demam.”

Dan Rasuilullah bersabda,

إِنَّ الْمُؤْمِنَ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا

“Sesungguhnya kaum mukminin itu seperti suatu bangunan, satu sama lain saling menguatkan.”

Maka sebenarnya engkau bisa kuat karena saudaramu, dan engkau tertolong karena saudarmu, maka wajib atasmu –wahai hamba Allah ‘Azza wa Jalla- untuk menjauh dari perpecahan atau seruan kepada perpecahan atau kepada perselisihan. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

وَلاَ تَنَازَعُواْ فَتَفْشَلُواْ وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَاصْبِرُواْ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

“Dan janganlah kalian berselisih sehingga kalian menjadi merugi dan hilang kekuatan kalian. Bersabarlah kalian, sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla bersama orang-orang yang bersabar.” (Al-Anfal: 46)

“Janganlah kalian berselisih”, apa yang akan terjadi jika berselisih? Buah perselisihan adalah kalian menjadi merugi dan celaka dengan adanya perselisihan, perbedaan, dosa dan maksiat. Janganlah kalian berselisih sehingga kalian menjadi merugi dan hilang kekuatan kalian. Hilanglah kekuatan kalian dan musuh-musuh kalian akan mengalahkan kalian meskipun mereka jumlahnya sangat sedikit.

Adapun jam’ah mukminah dan jama’ah muslimah jika berpegang teguh dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah, mereka saling tolong-menolong dalam kebaikan dan ketaqwaan, saling lemah lembut di antara mereka. Maka Allah ‘Azza wa Jalla menjamin bagi mereka pertolongan atas musuh-musuhnya meskipun jumlahnya sangatlah besar. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

كَم مِّن فِئَةٍ قَلِيلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيرَةً بِإِذْنِ اللَّهِ وَاللَّهُ مَعَ الصَّابِرِينَ

“Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah bersama orang-orang yang bersabar.” (Al-Baqarah: 249)

Maka wajib atas kita –wahai hamba Allah ‘Azza wa Jalla- untuk menjauhi seruang-seruan untuk saling menghajr atau  seruan untuk berpisah. Atau seruan untuk berpecah belah antara kaum muslimin. Seruan untuk berpisah dari siapa? Berpisah dari saudara engkau ahlus sunnah? Seruan untuk berpisah dari siapa? Berpisah dari saudaramu yang berada di atas al-haq? Seruan untuk menghajr siapa? Menghajr orang yang berada di atas manhaj yang benar. Maka seruan seperti ini adalah seruan yang buas, seruan yang tertolak. Bahkan kitab Rabb kita sangat penuh dengan ayat-ayat yang menanjurkan untuk bersatu, saling mengkasihi dan menyatukan kalimat. Penuh dengan ayat yang mentahdzir dari perselisihan dan perpecahan, dari saling menjauhi dan saling bercerai-berai. Ya –wahai hamba Allah ‘Azza wa Jalla- wajib atas kita untuk perhatian akan hal itu.

Perhatikan bebarapa ayat yang mulia pada surat Al-Hujurat!

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن جَاءكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَأٍ فَتَبَيَّنُوا أَن تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

“Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepada kalian seorang fasiq dengan suatu berita maka telitilah, agar kalian tidak menimpakan suatu musibah pada suatu kaum tanpa pengetahuan sehingga kalian menjadi menyesal akan apa yang kalian perbuat.” (Al-Hujurat: 6)

Dalam ayat ini ada pemecahan terhadap banyak permasalahan, pemecahan terhadap berbagai macam perkara yang diabaikan kau muslimin.

“Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepada kalian seorang fasiq dengan suatu berita maka telitilah, agar kalian tidak menimpakan suatu musibah pada suatu kaum tanpa pengetahuan sehingga kalian menjadi menyesal akan apa yang kalian perbuat.”

Ya, Allah ‘Azza wa Jalla memerintahkan kita untuk pelan-pelan, Allah ‘Azza wa Jalla memerinthakan kita untuk teliti dalam seluruh perkara kita. Sesungguhnya para ulama memiliki musuh, memiliki orang-orang yang yang menjadikan mereka asing dari umat. Terkadang mereka menyebarkan isu dusta dan kebohongan. Maka wajib atas setiap muslim untuk teliti dan perlahan-lahan jika mendengar suatu berita tentang saudaranya muslim yang adil yang tidak dikenal darinya kebatilan tidak pula kefasiqan, wajib atas setiap muslim untuk teliti.

Benar –wahai hamba Allah ‘Azza wa Jalla-, ini adalah tarbiyah dan ta’lim dari Allah ‘Azza wa Jalla pada kaum muslimin secara umum agar mereka bersikap dengan pelan nan lahan dan agar mereka meninggalkan sikap tergesa-gesa. Karena sikap tergesa-gesa tidaklah mendatangkan kecuali kebuasan, perpecahan, perselisihan dan persegketaan. Wajib atasamu untuk perlahan-lahan menanggapi suatu perkara. Ibnu Mas’ud berkata: “Sesungguhnya akan timbul perkara-perkara yang samar wajib atas kalian untuk perlahan dalam menanggapi, maka engkau menjadi pesuruh dalam kebaikan itu lebih baik dari pada engkau menjadi pemimpin dalam kejelekan”.

Benar –wahai hamaba Allah ‘Azza wa Jalla-, orang yang serampangan, yang tergesa-gesa dan yang terburu-buru maka akibatnya hanya untuk dirinya. Lisan-lisan akan mencercanya dan mencelanya dikarenakan sikapnya yang serampangan, dikarenakan sikapnya yang tergesa-gesa, dikarenakan tidak adanya sikap pelan-pelan dan teliti.

Kemudian Allah ‘Azza wa Jalla berfirman setelah ayat di atas,

وَإِن طَائِفَتَانِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ اقْتَتَلُوا فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا

“Dan jika ada dua kelompok dari kalangan kaum mukminin bertikai, maka damaikanlah di antara keduanya.” (Al-Hujurat: 9)

Ini adalah akhlaq ahlul islam bahwa mereka tidaklah rela kalau fitnah itu terus menyala, kalau permasalahan dan permusuhan di anatar kaum muslimin itu terus menyala.

“Dan jika ada dua kelompok dari kalangan kaum mukminin bertikai, maka damaikanlah di antara keduanya.” Karena perdamaian itu baik, dan karena perdamaian itu merupakan sebesar-besar amalan mendekatkan diri kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Bukankah Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

لاَّ خَيْرَ فِي كَثِيرٍ مِّن نَّجْوَاهُمْ إِلاَّ مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلاَحٍ بَيْنَ النَّاسِ

“Tidaklah ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka kecuali bisikan yang memerintahkan untuk melakukan shadaqah atau berbuat yang ma’ruf atau mengadakan perdamaian di anatara manusia.” (An-Nisa’: 114)

Dan Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,

أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِأَفْضَلَ مِنْ دَرَجَةِ الصَّلاَةِ وَالصِّيَامِ وَالصَّدَقَةِ قَالُوا بَلَى قَالَ إِصْلاَحُ ذَاتِ الْبَيْنِ وَفَسَادُ ذَاتِ الْبَيْنِ هِيَ الْحَالِقَةُ

“Maukah aku kabarkan kepada kalian sesuatu yang lebih baik dari derajat shalat, puasa dan shadaqah? Para shahabat berkata: “Ya”, Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- berkata: “Mendamaikan orang yang berselisih dan kerusakan orang yang berselisih itulah yang menghancurkan.”

“Dan jika ada dua kelompok dari kalangan kaum mukminin bertikai, maka damaikanlah di antara keduanya.” Inilah yang wajib, jika engkau melihat suatu masalah terjadi di suatu masjid atau di jalan atau pada suatu kelompok, maka wajib atas kita bersegera untuk mnyelesaikannya, untuk segera meredam api fitnah lalu berusha mempererat kedua belah pihak yang saling menjauhi dan menyatukan pihak yang saling berselisih. Maka kita mendamaikan dengan keadilan, maka kita mendamaikan dengan keadilan. Seandainya salah satu pihak terus dalam sengketanya dan yang zhalim enggan untuk berlepas dari kezhaalimannya, maka Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

فَإِن بَغَتْ إِحْدَاهُمَا عَلَى الأُخْرَى فَقَاتِلُوا الَّتِي تَبْغِي حَتَّى تَفِيءَ إِلَى أَمْرِ اللَّهِ

“Maka jika salah satu dari kedua golongan itu berbuat aniaya kepada yang laian maka perangilah yang berbuat aniaya sampai dia kembali kepada perintah Allah.” (Al-Hujurat: 9)

Teguh Di Atas Dakwah Al-Haq 04

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: